TERIMA KASIH KUNJUNGAN ANDA DI WEBSITE PONDOK PESANTREN MODERN DARUL FALAH ENREKANG >>>> THANKS FOR YOUR VISITING ON DARUL FALAH ISLAMIC BOARDING SCHOOL WEBSITE

Senin, 10 Juni 2013

Catatan Perjalanan 03"Belajar Speaking Di Kampung Inggris 2013"



Begini Rasanya Naik Kapal Laut                                          

Pagi hari kami terbangun dengungan azan subuh di kapal. Bergegas kami membersihkan muka, berwudhu dan menaiki tangga naik ke dek atas bagian belakang dimana mushola kapal berada. Cuaca cukup dingin dan tiupan angin buritan kapal disertai sedikit air menerpa muka dan badan kami. Ombak yang tidak seberapa besar silih berganti menghantam buritan kapal suara laut yang baru pertama kali saya rasakan menambah suasana semakin dingin. 

Arah kiblat di mushola diatur menyerong 45O dari arah kapal sebab kapal dalam posisi mring ke arah barat daya dan tampak penuh jamaah shalat subuh. Barangkali tidak mau melewatkan momen ibadah di duasana perjalanan laut yang menggetarkan. Menggetarkan karena di dekiliking kapal yang ada hanya air, air, air dan air. Tidak na,pak kapal lainnya, daratan ataupun burung terbang. Barangkali terlalu jauh dari daratan sehingga burungpun tidak nampak.
Seusai shalat diantara kami ada yang  masih tidur karena kelelahan dan ada pula yang berjalan menyusuri kapal untuk melihat keindahan di atas kapal. Ombak yang begitu besar membuat kepala kami terasa sakit. Bagi sebagian kecil dari kami yang pernah naik kapal laut dikatakan ombaknya kecil dan tenag tetapi bagi kami yang belum terbiasa goyangan kceil akibat ombak cukup membuat kami limbung dan pusing. Sempat kaget juga dalam perjalanan awal ibu pembina kami sakit, dan bahkan sempat mual mual. Tapi kami berusaha untuk memijat dan mengurutnya hingga rasa pusing yang diderita pun bisa hilang. Sarapan pagi kami masih menghabiskan bekal dari enrekang yang masih dalam kondisi bagus. 

Dan saat makan siang sebagian masih makan bekal dan sebagian mulai menyiran mie dari mie gelas dengan beragam merk dan rasa. Bahkan sebagian dari kami telah mengambil jatah makan dari kamapal dengan nasi, sayur dan ikan sepotong yang kemudian ditambah sambal goreng tahu, tempe untuk menambah citarasanya. Tak berapa lama kemudian seorang penjual rujak datang untuk menjajakan barang dagangannya karena tergiur dengan rujak itu kami pun membelinya dan tak peduli berapa pun harganya, karena kami membeli  banyak, akhirnya kami pun mendapatkan 1  gratisan Rujak.
Selama hampir sehari itu pekerjaan kami hanya tertidur dan bangun saat waktu makan tiba sampai pada pukul 16.00. Kami bergegas untuk membersihkan badan yang begitu penuh dengan keringat alias mandi sore. Dan kami pun sempat membeli es lilin. Pada awalnya kami mengira bahwa harga es itu hanya Rp.500 tetapi dugaan kami itu salah bahkan es lilin itu seharga Rp 2.000/ biji. Yah mau tak mau kami pun harus tetap membayarnya kami sudah mengambilnya dan memankanya. Namun itu juga meruapakan pelajaran bagi kami agar sebelum membeli makanan sebaiknya harganya ditanyakan dulu dengan penjualnya agar tidak timbul rasa penyesalan dibelakang
       
Di sore hari kami pun menghilangkan rasa jenuh dengan berjalan jalan di atas kapal untuk melihat keindahan laut di atas kapal. Dan berfoto foto dengan teman teman dan pembina, kami menyempatkan untuk berfoto dengan seorang kakak yang ternyata akan pergi dengan tujuan yang sama dengan kami tetapi beda study meraka kursus bahasa mandarin sedangkan kami language english. Saking asyiknya berjalan jalan dan berfoto kami tak menyadari bahwa waktu untuk mengambil makanan pun telah habis, kami sempat menyesal karena kehilangan kesempatan untuk mengambil makanan tapi semua itu telah terbayarkan dengan keindahan laut yang telah kami saksikan. 

Sampai akhirnya kami pun memutuskan untuk melaksanakan ibadah shalat di masjid secara berjamaah. Setelah shalat kami pun pulang ke tempat kami dan mengambil pop mie untuk kemudian di siram dan  digunakan makan malam bersama teman teman. Tak terasa  malam ini adalah malam terakhir kami di atas kapal sebab pada pukul 01.00 nanti kami sudah sampai di pelabuhan Tanjung Perak. Kesempatan inipun kam manfaatkan dengan berjalan-jalan di buritan dan di atas kapal untuk berfoto ria dengan teman-teman dan guru pembina kami. Barangkali ust adi sudah terbiasa naik kapal laut sehingga tidak tertarik jalan-jalan terus dan berfoto di kapal. Bagi kami inilah pengalaman pertama kali naik kapal yang begitu besar bersama ribuan orang lain, yaa... KM Lambelu.

Oh, yaa..untuk urusan mandi kami tidak repot sebab toilet putra berada di samping ruang yang khusus ditempati santri putri. Tempat santri putri memang spesial sebab dalam satu ruang tersebut hany ditempat santri putri dari daruil Falah yang tidak bercampur dengan penumpang lain. Sedangkan tempat putra harus melewati satu pintu bertetangga dengan ruang putri yang bercampur dengan penumpang lainnya. Toilet Putra dan Putri saling berhadapan pintu masuknya. Bagi kami santri putra kadangkala hal ni yang membuat kami malu dan kikuk kalau mau mandi sebab harus melalui ruangan putri. Maluuu..deeh. Biasa kami mengajak teman kalau ada keperluan atau hajat yang menghariuskan kami ke toilet. Belum pede broo..tetapi ada juga satu dua teman kami yang begitu pedenya lalu lalang melalui santri putri, caper kali..
Lain lagi cerita Ust Adi yang tidak perbah mandi di toilet  kelas ekonomi. Kalau mau mandi cukup bawa tas plastik isi perlengkapan dan pakaian bersih dilipat sekan-akan membawa barang penting lantas ust adi pergi naik ke dec 5 untuk mandi di ruang kelas. Ust. Adi cerita bahwa kamar mandi dikelas terjaga bersih dan tidak bau smeentara toilet kelas ekonomi kurang begitu terawat dan bau. Tetapi kam kurang berani mencobanya sebab takut kalau tertangkap.
Kami pun menunggu lagi hingga beberapa jam untuk sampai di pelabuhan. Sambil menunggu kami pun melakukan beres beres barang dan bercrita sambil bercanda. Tapi ada juga diantara kami yang tertidur karena beranggapan bahwa dengan tidur maka waktu untuk  menunggu semakin tak terasa. Yah ini adalah kedua kalinya kami menunggu tapi menunggu namun kali ini berbeda dengan menunggu pertama, sebab kami menunggu diatas kapal sambil baring dengan tidak menggunakan alas tikar lagi tetapi berbaring di atas matress.
Sebagian besar dari kami tertidur, dan kami terbangun saat ustadz adi membangunkan dan jam menunjukkan pukul 12.00 malam. Selanjutnya kami bersiap-siap, cuci muka merapikan sebagian barang yang belum dikemasi dan saat informasi dari kapal mengumumkan kapal merapat 30 menit lagi, kami bersama-sama beriringan meninggalkan dec 2 kapal untuk naik ke dek 5 mendekati tangga penurunan penumpang.

Dengan tetap memeprtahankan kekompakan kami menempel di dinding kapal berbaris sambil memanggul tas rangsel masing-masing. Di depan, ust adi memimpin rombongan, dibantu Akram, Arifin, Makbul selanjutnay deretan kelompok santri putri didampingi ust andina dan disambung oleh rombongan pelindung putra di pimpin ust Misran di belakang.

Indah pemandangan malam pelabuhan tanjung perak surabaya, akhirnya kami akan menginjakkan kaki di daratan pulau jawa. Lebih luas rasanya cakrawal dunia yang kami lihat, selama ini kami hanya terpaku di seputar bumi massenrempulu tercinta, sekarang kami keluar kandang untuk mengejar pengalaman dan pengetahuan demi masa depan. Dengan tegas petugas ABK khusus di pintu penurunan menjaga, kemudian begitu tangga kapal menapak di pantai pelabuhan nampak petugas pelabuhan dan ABK pengganti menaiki duluan ke atas. Kami menepi untuk memberi jalan bagi mereka. Dan selanjutnay kami satu persatu menuruni anak tangga satu persatu dengan hati-hati. Anak tangga kapal terbuat dari baja sehingga kami ekstra hati-hati menapakinya.

Begitu menginjakkan kaki di pelabuhan, kami tetap mempertahan kan posisi barisan dua dua. Rombongan kami gampang dikenali sebab kami dinstruksikan untuk memakai jas pengurus OSDF berwarna hitam dengan logo darul falah di dada kanan. Sekitar  300 meter kami masih harus berjalan keluar dari pelabuhan menuju ke Bus Pariwisata Indosentosa berwarana biru yang menunggu kami sejak jam 10 malam. Kami masuk ke Bus diatur dimana Ust Adi, Ust Misran dans Ismail duduk di depan berdekatan dengan Sopir dan Pendamping Sopir yang bernama Pak Jumadi. Santri Putri mengisi bagian depan tengah dan santri laki-laki memenuhi ruang di belakang.

Minggu, 09 Juni 2013

Catatan Perjalanan 02 "Belajar Speaking Di Kampung Inggris 2013"



Menunggu KM Lambelu (putri)

Tepat pada pukul 04.30 kami tiba di Pelabuhan Makassar. Pada saat tiba di pelabuhan kami mengira bahwa KM LAMBELU akan tiba pada pukul 06.00 ternyata tidak seperti yang dibayangkan kami harus menuunggu kedatangan KM LAMBELU yang begitu lama hingga mencapai pukul 12.00. pada saat menunggu kami sangat merasa lelah ditambah lagi dengan keadaan cuaca yang tidak mendukung karena hujan yang turun begitu deras dan membuat ombak semakin naik tetapi, pada saat itu kami merasakan kenikmatan bersama teman teman yang takkan terulang kedua kalinya lagi. 


Menunggu teralu lama di pelabuhan membuat kami merasa kelelahan akhirnya kami pun tertidur dengan menggunakan alas tikar yang dibeli dengan harga 5.000/lembarnya. Meskipun demikian kami sadar bahwa kelelahan itu akan hilang dangan kesabaran dan keikhlasan. Sebagaimana pepatah yang mengatakan MAN ZHABARA ZHAFIRA Barang Siapa Yang Bersabar Maka Beruntunglah Ia.

Lain lain pengalaman ust Misran sambil menunggu kedatangan kapal sempat berbincang ringan dengan aktivis dakwah yang berasal dari Yordania yang hanya bisa dengan bahasa Arab. Berhubung ust Misran terampil dalam bahasa Arab jadinya komunikasi nyambung.
Tak terasa setelah jenuh menunggu akhirnya  KM LAMBELU pun tiba di pelabuhan. Perasaan kami pun berubah menjadi bahagia karena sebentar lagi kami akan menaiki kapal bersama teman teman. Hujan yang deras tak mengurangi rasa bahagia kami yang telah lama menunggu kedatangan kapal tersebut. Akhirnya tepat pada pukul 12.oo kami pun manaiki KM LAMBELU. Dengan penuh hati hati kami berjalan dengan baris dua menaiki tangga yang basah karena hujan dan terus berjalan memasuki kapal hingga mencari tempat yang sesuai dengan tiket yang kami miliki. Setelah kami mendapatkan tempat yang pas akhirnya kami pun beristirahat. Malam itu adalah pertama kalinya kami tidur di atas kapal bersama teman dan pembina. 

Tak terasa akhirnya jam telah menunjukkan pukul 06.00. Diantara kami ada yang  masih tidur karena kelelahan dan ada pula yang berjalan menyusuri kapal untuk melihat keindahan di atas kapal. Ombak yang begitu besar membuat kepala kami terasa sakit. Saat itu kami hendak merasa kaget sebab ibu pembina kami sakit, dan bahkan sempat mual mual. Tapi kami dari santri putri berusaha untuk memijat dan mengurutnya hingga rasa pusing yang diderita pun bisa hilang. Kini waktu menunjukan makan siang, kami tak menyadari bahwa ternyata bekal yang kami bawa hampir habis sehingga kami pun, memutuskan untuk menyiram pop mie. Tak berapa lama kemudian seorang penjual rujak datang untuk menjajakan barang dagangannya karena tergiur dengan rujak itu kami pun membelinya dan tak peduli berapa pun harganya, karena kami membeli  banyak, akhirnya kami pun mendapatkan 1  gratisan Rujak.
Selama hampir sehari itu pekerjaan kami hanya tertidur dan bangun saat waktu makan tiba sampai pada pukul 16.00. Kecuali santri uyang mendapatkan giliran membuat catatan harian perjalanan ke kampung inggris harus berduskusi dan memeras otak merangkai kata menjadi kalimat. Selanjutnya kami bergegas untuk membersihkan badan yang begitu penuh dengan keringat alias mandi sore. Dan kami pun sempat membeli es lilin. Pada awalnya kami mengira bahwa harga es itu hanya Rp.500 tetapi dugaan kami itu salah bahkan es lilin itu seharga Rp 2.000/ biji. Yah mau tak mau kami pun harus tetap membayarnya kami sudah mengambilnya dan memankanya. Namun itu juga meruapakan pelajaran bagi kami agar sebelum membeli makanan sebaiknya harganya ditanyakan dulu dengan penjualnya agar tidak timbul rasa penyesalan dibelakang
Di sore hari kami pun menghilangkan rasa jenuh dengan berjalan jalan di atas kapal untuk melihat keindahan laut di atas kapal. Dan berfoto foto dengan teman teman dan pembina, kami menyempatkan untuk berfoto dengan seorang kakak yang ternyata akan pergi dengan tujuan yang sama dengan kami tetapi beda study meraka kursus bahasa mandarin sedangkan kami language english. Saking asyiknya berjalan jalan dan berfoto kami tak menyadari bahwa waktu untuk mengambil makanan pun telah habis, kami sempat menyesal karena kehilangan kesempatan untuk mengambil makanan tapi semua itu telah terbayarkan dengan keindahan laut yang telah kami saksikan.
Sampai akhirnya kami pun memutuskan untuk malaksanakan ibadah shalat di masjid secara berjamaah. Setelah shalat kami pun pulang ke tempat kami dan mengambil pop mie untuk kemudian di siram dan  digunakan makan malam bersama teman teman. Tak terasa  malam ini adalah malam terakhir kami di atas kapal sebab pada pukul 01.00 nanti kami sudah sampai di pelabuhan Tanjung Perak. Kami pun menunggu lagi hingga beberapa jam untuk sampai di pelabuhan. Sambil menunggu kami pun melakukan beres beres barang dan bercrita sambil bercanda. Tapi ada juga diantara kami yang tertidur karena beranggapan bahwa dengan tidur maka waktu untuk  menunggu semakin tak terasa. Yah ini adalah kedua kalinya kami menunggu tapi menunggu namun kali ini berbeda dengan menunggu pertama, sebab kami menunggu diatas kapal sambil baring dengan tidak menggunakan alas tikar lagi tetapi berbaring di atas matress.

Sabtu, 08 Juni 2013

Catatan Perjalanan 01 "Belajar Speaking Di Kampung Inggris 2013"



Tiga Elang Hitam
          Jam 08.30 kami berkumpul di lapangan basket untuk mendengar pengarahan dari Ketua PH Yayasan Pendidikan Islam Enrekang sekaligus melepas keberangkatan rombongan yang berangkat ke kediri. Setelah itu kami menyalami semua guru dan staf yang ada di lingkungan sekolah pada saat itu untuk meminta doa restu semoga perjalanan kami lancar dan selamat sampai tujuan dan kepulangan kembali serta tercapai tujuan diadakan kegiatan ini.
          Bergeser mundur dari jam 08.00 WITA seperti rencana awal, tepat pada jam 09.00 WITA tiga mobil sudah siap di halaman pesantren. Ketiganya punya tongkrongan keren habis dan dingin beku dan tampilan ketiganya sangat kompak, yaitu warna serba hitam polos, bahkan plat nomornya sisa tersisa angka dan abjad kode daerah saja yang berwarna putih. Tidak ada variasi stiker di bodinya, hanya ada sketsa kecil ceceran darah di sudut dashboard belakang mobil pertama, dan di mobil yang kedua hanya ada tambahan tulisan ‘dilema’ diatas trademark kijangnya. Sedangkan di mobil ketiga tidak ada satupun tulisan yang menjadikannya semakin dingin beku. Tampak tiga anak muda seusia kakak kami dengan gaya anak jago ngebut seperti di ‘The Fast and Furious’ mendampingi tiga elang hitam.
          Sebagaimana hasil briefing, mobil pertama di isi oleh kelas 3 MTs yang terdiri 8 santri putri, di dampingi  oleh Ustadz Misran dengan asistennya Ismail. Mobil kedua diisi santri putri sma dengan pendamping ibu Andi Hamsina dan mobil ke 3 di isi oleh ‘tim bodyguard’ karena terdiri atas santri putra smp dan sma ditemani pimpinan rombongan kegiatan ini, pak Adi Warsito.
Awal perjalanan mobil pertama dan kedua berangkat duluan dan menunggu di Malino, sedangkan mobil ketiga transit di Riso untuk sarapan dan kami pun merasa iri melihat rombongan perempuan yang telah pergi tampa hambatan, saat mobil berangkat tiba-tiba mobil singgah lagi di baba untuk mengganti ban, tapi ternyata ini berlangsung lumayan lama. Setelah itu, kami pun berangkat dan harus singgah di Baba untuk menjemput Arifin yang katanya sudah menunggu sejak jam 07.00 pagi !
Dengan kecepatan tinggi kendaraan dipacu dan tidak lama kami sampai di Karrang bertemu dengan 2 mobil lain yang menunggu dan kamipun berangkat beriringan. Lampu tanda rombongan di ketiga mobil dinyalakan bagaikan kedipan mata elang yang berpacu dengan waktu bergegas mengantar kami mencari ilmu. Zigzag bergantian sekaligus memposisikan mobil di jalan terbaik dan sesekali berubah urutan.

Sabar Disayang Tuhan
Untuk menghindari rasa jenuh , kami bercerita  satu sama lain sambil mendengarkan  variasi musik yang didentumkan sound system mobil. Remix, Pop, dan Rap dengan suara menggelegar menyubit dan menarik mesra telinga dan perasaan sehingga perjalanan dapat kami nikmati. Saat adzan dhuhur, mobil rombongan berhenti untuk menunaikan kewajiban sholat dhuhur sekalian jama’ qashar di masjid di daerah Barru.
          Setelah sholat kami pun melanjutkan perjalanan untuk singgah ditepi pantai dekat Masjid An Nur untuk istirahat sejenak sambil makan. Peserta Putri dan Ibu Andi Hamsina dengan sigap mempersiapkan makanan dan setelah semuanya siap kami pun makan bersama di tanggul bibir pantai. Ada yang makan duduk di kursi beton, ada yang dikursi kayu dan beberapa teman makan jongkok di tanggul. Dengan menu yang sangat bervariasi dengan lauk ayam, sambal goreng tempe, sambal tomat, dan buras sambil bercengkerama dan melihat pemandangan sekitar kami makan dengan lahapnya.
“Plung ..”terdengar bunyi benda jatuh di air dan tersebar gelombang riak air kecil. Semula kami mengira ada batu yang jatuh di air, belakangan cerita yang ada adalah salah satu handphone salah satu teman kami jatuh di air. Rupanya Miftahul Akbar yang menyimpan handphone di kantong celana depannya yang mempunyai ukuran mulut kantong besar dengan posisi duduk jongkok tiba-tiba handphonenya meluncur keluar dan jatuh di air. Handphonennya dikhlaskan...karena tidak mungkin tertolong lagi. Sebagai teman saya berbangga kepada Miftah karena dia tidak lama larut dalam kesedihan  dan dalam melanjutkan perjalanan seolah tidak ada yang hilang dalam dirinya...tetap ceria dan gembira.
Dan sesudah itu kami melanjutkan perjalanan kembali dengan kecepatan tinggi. Mobil berzig zag di jalanan beton yang lebar. Jalanan trans Sulawesi yang dikebut pengerjaannya terdiri atas 4 lajur memancing ketiga elang hitam terbang meliuk-liuk mengikuti kelonya jalanan dengan kecepatan sektar 100 km/jam labih. Tanpa terasa kami sudah di Pangkep setelah perjalanan panjang di Kabupaten Barru. Karena ada sesuatu yang lain kami lihat pada teman Sahid Alfian langsung kami minta sopir menghentikan mobil...dan sesaat Alfian meluncur keluar muntahannya. Sejak awal perjalanan ada satu teman kami yang agak menahan diri bicara dalam perjalanan karena kadangkala dia dalam mabuk perjalanan.
Kami langsung melanjutkan perjalanan melalui jalan TOL untuk langsung ke pelabuhan. Sesudah melalui pemeriksaan di gerbang masuk Port Of Makassar kami menurunkan barang perbekalan dan rangsel masing-masing. Bau busuk sangat menyengat tercium di Pelabuhan sehingga kami bergegas memakai rangsel pergi untuk istirahat sambil menunggu di Kantor Pemberangkatan sambil menunggu KM Lambelu sandar. Yaa..sabaaaar, Karena Orang Sabar Disayang Tuhan.

Minggu, 05 Mei 2013

Penerimaan Santri Baru TP. 2013/2014

Pesantren Modern Darul Falah Enrekang yang beralamat di Jalan Jendral Sudirman No. 02 Kelurahan Galonta, Kec. Enrekang Kabupaten/Kota Enrekang pada Tahun Pelajaran 2013/2014 kembali membuka pendaftaran Santri baru untuk tingkat TK, SMP, MTs dan SMA.
Pesantren yang terletak di tengah kota Enrekang, bertetangga dengan Diknas Dikpora, SMAN 1 Enrekang, SMPN 1 Enrekang, SMAS Muhammadiyah, MTs dan MA Muhammadiyah serta SMK PGRI Enrekang pada tahun ini hanya menerima sekitar 80 s.d 100 santri terkait dengan daya tampung asrama baik asrama putra maupun asrama putri.
Brosur PSB TP 2013/2014
BROSUR PSB PPM DARUL FALAH 20132014

Kamis, 15 November 2012

Tahun Baru 1434 Hijriah : "Muhammad Kekasih Di Hati"

Warga Pesantren Modern Darul Falah Enrekang memasuki tahun baru hijriah 1434 H menyambut dengan sukacita dengan melaksanakan berbagai aktivitas yang melibatkan santri, pembina dan warga pesantren. 

Kuis Materi PAI/Kepesantrenan pada malam pergantian tahun Hijriah

Tepat pergantian tahun, selepas shalat magrib berjama'ah dilaksanakn pengajian di ruang utama Masjid Ta'miru Darul Falah dan ba'da shalat Isya dilaksanakan perlombaan berupa kuis yang mengadopsi model kuis di televisi. Dalam kuis tersebut materi yang diujikan khusus bidang agama/kepesantrenan.

Mengangkat kertas jawaban dari soal lisan yang diajukan Pembina

Selesai kuis, kegiatan penutup pada malam hari itu adalah nonton Film pendidikan Islami di Lapangan Basket melalui layar yang disorot LCD Projektor. 

Menonton bersama di Lapangan

bagi santri Pesantren yang harus tinggal di asrama, menonton melalui LCD proyektor menjadi hiburan tersendiri dan ada keasyikan tersendiri.
 
Santri Putri asyik nonton bareng

Pada pagi harinya dilakukan pawai melibatkan seluruh santri dan pembina dan warga Pesantren Modern Darul Falah Enrekang. Pada pawai Muharam 1434 Hijriah ini mengambil tema " Muhammad Kekasih Di Hati" di motori oleh Ustadz Muh. Yusuf, S.Ud.
 

 Dewan Juri/Pembina memberi penilaian Kelompok Defil

Unjuk karya ditampilkan Kelompok Pawai Putri

 Pawai keluar dari pesantren

 
Drumband Putri

Drumband Putra Mengiringi Jalannya Pawai


 
 Rombongan Kelompok Pawai Putra Dengan Model Kabah
 
  
Melewati Masjid Nurul Falah


Disebelah barat Lapngan Abu Bakar Lambogo

Melintas di Depan Kodim Enrekang

Melalui Jalan Pancaitana Bungawalie, (belakang Pesantren)
Tetap semangat, hampir sampai di Kampus

Ust. Muh. Yusuf bersama sebagian santri Kelas VIIA

Pelatih Drumband bersama beberapa Pembina Putra/Putri dengan santri

Selamat Tahun Baru Hijriah 1434 H
Mohon Ma'af Lahir & Batin

Rabu, 14 November 2012

Selamat Tahun Baru 1434 Hijriah

Bulan Zulhijjah 1433 Hijriah berlalu, kita semua masuk bulan Muharam 1434 Hijriah. Masih banyak dari umat Islam yang melewatkan begitu saja momen pergantian tahun baru Islam sekarang. Banyak faktor yang menyebabkannya bila ditilik bahwa di Indonesia umat Islam adalah mayoritas sehingga pergantian tahun Masehi justru lebih marak.
Sudah sepatutnya kita yang mengetahui hal tersebut menjadikan pergantian tahun baru Islam sebagai momen untuk bermuhasabah atau introspeksi diri. Introspeksi terhadap kekurangan-kekurangan yang masih dilakukan dan kebaikan-kebaikan yang belum sempat kita lakukan apakah dengan kesengajaan ataupun tidak disengaja.
Salah satu kekurangan mendasar pengetahuan tentang kalender Hijriah adalah nama-nama bulan Hijriah dan sejarah Kalender Hijriah. Untuk menyegarkan ingatan kita semua, berikur urutan nama bulan pada kalender Hijriah dan sejarah Kalender Hijriah. Urutan Bulan Kalender Hijriah sebagai berikut :
  1. Muharam
  2. Safar
  3. Rabiulawal
  4. Rabiulakhir
  5. Jamadilawal
  6. Jamadilakhir
  7. Rejab
  8. Syaaban
  9. Ramadan
  10. Syawal
  11. Zulkaedah
  12. Zulhijjah
Sejarah kalender Hijriah Dan Masehi
Kalender Hijriyah atau Kalender Islam (bahasa Arab: التقويم الهجري; at-taqwim al-hijri), adalah kalender yang digunakan oleh umat Islam, termasuk dalam menentukan tanggal atau bulan yang berkaitan dengan ibadah, atau hari-hari penting lainnya. Kalender ini dinamakan Kalender Hijriyah, karena pada tahun pertama kalender ini adalah tahun dimana terjadi peristiwa Hijrah-nya Nabi Muhammad dari Makkah ke Madinah, yakni pada tahun 622 M. Di beberapa negara yang berpenduduk mayoritas Islam, Kalender Hijriyah juga digunakan sebagai sistem penanggalan sehari-hari. Kalender Islam menggunakan peredaran bulan sebagai acuannya, berbeda dengan kalender biasa (kalender Masehi) yang menggunakan peredaran Matahari.
Penentuan dimulainya sebuah hari/tanggal pada Kalender Hijriyah berbeda dengan pada Kalender Masehi. Pada sistem Kalender Masehi, sebuah hari/tanggal dimulai pada pukul 00.00 waktu setempat. Namun pada sistem Kalender Hijriah, sebuah hari/tanggal dimulai ketika terbenamnya Matahari di tempat tersebut.Sejarah
Kalender Hijriyah dibangun berdasarkan rata-rata silkus sinodik bulan kalender lunar (qomariyah), memiliki 12 bulan dalam setahun. Dengan menggunakan siklus sinodik bulan, bilangan hari dalam satu tahunnya adalah (12 x 29,53059 hari = 354,36708 hari).Hal inilah yang menjelaskan 1 tahun Kalender Hijriah lebih pendek sekitar 11 hari dibanding dengan 1 tahun Kalender Masehi.
Faktanya, siklus sinodik bulan bervariasi. Jumlah hari dalam satu bulan dalam Kalender Hijriah bergantung pada posisi bulan, bumi dan Matahari. Usia bulan yang mencapai 30 hari bersesuaian dengan terjadinya bulan baru (new moon) di titik apooge, yaitu jarak terjauh antara bulan dan bumi, dan pada saat yang bersamaan, bumi berada pada jarak terdekatnya dengan Matahari (perihelion). Sementara itu, satu bulan yang berlangsung 29 hari bertepatan dengan saat terjadinya bulan baru di perige (jarak terdekat bulan dengan bumi) dengan bumi berada di titik terjauhnya dari Matahari (aphelion). Dari sini terlihat bahwa usia bulan tidak tetap melainkan berubah-ubah (29 – 30 hari) sesuai dengan kedudukan ketiga benda langit tersebut (Bulan, Bumi dan Matahari).
Penentuan awal bulan (new moon) ditandai dengan munculnya penampakan (visibilitas) Bulan Sabit pertama kali (hilal) setelah bulan baru (konjungsi atau ijtimak). Pada fase ini, Bulan terbenam sesaat setelah terbenamnya Matahari, sehingga posisi hilal berada di ufuk barat. Jika hilal tidak dapat terlihat pada hari ke-29, maka jumlah hari pada bulan tersebut dibulatkan menjadi 30 hari. Tidak ada aturan khusus bulan-bulan mana saja yang memiliki 29 hari, dan mana yang memiliki 30 hari. Semuanya tergantung pada penampakan hilal.
Penetapan kalender Hijriyah dilakukan pada jaman Khalifah Umar bin Khatab, yang menetapkan peristiwa hijrahnya Rasulullah saw dari Mekah ke Madinah. Kalender Hijriyah juga terdiri dari 12 bulan, dengan jumlah hari berkisar 29-30 hari. Penetapan 12 bulan ini sesuai dengan firman Allah SWT : 

 إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِندَ اللّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْراً فِي كِتَابِ اللّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَات وَالأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلاَ تَظْلِمُواْ فِيهِنَّ أَنفُسَكُمْ وَقَاتِلُواْ الْمُشْرِكِينَ كَآفَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَآفَّةً وَاعْلَمُواْ أَنَّ اللّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ

”Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya; dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.” (QS : At Taubah(9):36). 

Sebelumnya, orang Arab pra-kerasulan Rasulullah Muhammad SAW telah menggunakan bulan-bulan dalam kalender hijriyah ini. Hanya saja mereka tidak menetapkan ini tahun berapa, tetapi tahun apa. Misalnya saja kita mengetahui bahwa kelahiran Rasulullah SAW adalah di tahun gajah.Abu Musa Al-Asyári sebagai salah satu gubernur di zaman Khalifah Umar r.a. menulis surat kepada Amirul Mukminin yang isinya menanyakan surat-surat dari khalifah yang tidak ada tahunnya, hanya tanggal dan bulan saja, sehingga membingungkan. 

Khalifah Umar lalu mengumpulkan beberapa sahabat senior waktu itu. Mereka adalah Utsman bin Affan r.a., Ali bin Abi Thalib r.a., Abdurrahman bin Auf r.a., Sa’ad bin Abi Waqqas r.a., Zubair bin Awwam r.a., dan Thalhan bin Ubaidillah r.a. Mereka bermusyawarah mengenai kalender Islam. Ada yang mengusulkan berdasarkan milad Rasulullah saw. Ada juga yang mengusulkan berdasarkan pengangkatan Muhammad saw menjadi Rasul. Dan yang diterima adalah usul dari Ali bin Abi Thalib r.a. yaitu berdasarkan momentum hijrah Rasulullah SAW dari Makkah ke Yatstrib (Madinah). Maka semuanya setuju dengan usulan Ali r.a. dan ditetapkan bahwa tahun pertama dalam kalender Islam adalah pada masa hijrahnya Rasulullah saw.