TERIMA KASIH KUNJUNGAN ANDA DI WEBSITE PONDOK PESANTREN MODERN DARUL FALAH ENREKANG >>>> THANKS FOR YOUR VISITING ON DARUL FALAH ISLAMIC BOARDING SCHOOL WEBSITE

Sabtu, 02 Juli 2011

Sejarah Pesantren

A. Sejarah Pendirian

Pada tanggal 1 Januari 1967 Bapak H. Muhammadong, Pendiri dan Pemilik P.T Bank Masyarakat mendirikan Jajasan Kijai Hadji Ahmad Dahlan yang diterbitkan dengan Akta Notaris Sitske Liem Nomor 45 tertanggal 28 Maret 1967 dengan maksud dan tujuan menyelenggarakan kegiatan di bidang pendidikan dan penggalian ilmu pengetahuan yang bermanfaat bagi perkembangan Islam.

Gedung bekas Universitas La Tunrung, perabot perlengkapan sekolah, kantor dan perpustakaan dialihkan kepada Jajasan Kijai Hadji Ahmad Dahlan, penyerahan dituangkan dalam Naskah Penyerahan Wakaf dan dicatat pada Wakil Notaris S mentara M.G Oherella pada tanggal 2 Januari 1974.

Pada tanggal 10 Mei 1997 berdasarkan Keputusan Rapat Badan Pendiri Jajasan Kijai Hadji Ahmad Dahlan yang dituangkan dalam Akta Pernyataan Keputusan Rapat dihadapan Notaris Mahmud Said, SH No. 35 tanggal 21 Juli 1997 merubah dan menetapkan pengurus baru Yayasan yang terdiri dari Ketua Umum Bapak DR. Ir. H. Beddu Amang, MA dan 20 anggota pengurus lainnya untuk melanjutkan kegiatan yayasan dan pendidikan pesantren yang saat itu mengalami masalah pembiayaan termasuk bangunan gedung dan peralatannya yang sudah sangat memprihatinkan.

B. Pembangunan Kembali

Untuk mendukung proses pembelaja ran/pemondokan para santri maka pada tahun 1998 dimulailah pembangunan gedung sekolah. Asrama putra dan putri dengan kapasitas ± 600 daya tampung santri beserta perabot seperlunya.

Pembangunan gedung-gedung beserta unit-unit sarana/prasarana pendidikan, Alhamdulillah selesai pada awal tahun 1999. Di dorong semangat Fi Sabilillah seba-gaimana semangat jihad para pendiri sebelumnya, maka pada tanggal 21 September 1999 para pengurus yayasan memutuskan dan menegaskan bahwa :

1. Para pendiri awal Yayasan ini adalah H. Muhammadong (alm) dan Ahmad Makarausu Armansyah.

2. Para Pelanjut/Pendiri Yayasan ini adalah Bapak Prof. DR. Ir. H. Beddu Amang, MA sekeluarga

3. Mengubah nama Yayasan dari Yayasan Kijai Hadji Ahmad Dahlan menjadi Yayasan Pendidikan Islam Enrekang dengan maksud untuk lebih membuka diri untuk menjadi pilihan tempat belajar dari semua golongan Islam.

4. Memperluas bidang studi yang seimbang antara pendidikan Agama dan pendidikan umum mengikuti pola Pesantren IMMIM.

5. Melengkapi Kepengurusan berupa Dewan Pengawas yang direkrut dari tenaga-tenaga ahli yang berpe-ngalaman guna membina dan mengawasi proses belajar mengajar yang lebih baik. Dalam perkembangannya berbagai pra-sarana semakin bertambah, antara lain Gedung Laboratorium IPA, Bahasa dan Gedung TK Islam Darul Falah.

Demikian juga sarana penunjang, berupa peralatan kesenian, drumband, komputer dari Yayasan, alat dan bahan Laboratorium Fisika, Kimia dan Biologi dari Depag Pusat dan sarana lainnya baik dari Instansi terkait di derah maupun di wilayah. Gedung Pembelajaran 2 lantai, terdiri dari ruang pembelajaran, 2 (dua) buah ruang perpustakaan, laboratorium komputer, ruang ketrampilan menjahit, ruang seni budaya/drumband, ruang kaligrafi, sekretariat Organisasi Santri Darul Falah (OSDF), kantin/koperasi, UKS dan auditorium/aula yang luas.

Sarana olah raga antara lain lapangan basket dan futsal, lapangan bulutangkis, takraw, volley bal, kasti serta tenis meja. Masjid selain tempat pelaksanaan shalat berjama’ah juga menjadi tempat pembelajaran/pembinaan utamanya dalam kegiatan kepesantrenan, kemudian Asrama Putra dan Putri masing-masing terdiri dari 2 lantai lengkap dengan toilet dan kamar mandi serta kolam yang mencukupi.

Dari aspek ketenagaan Pembina/Guru yang berasal dari alumni PTIQ Jakarta, UIN, UNM, UMI Makassar, ITS Surabaya, IKIP Yogya dan beberapa Perguruan Tinggi lain diatur sesuai kompetensinya baik yang mengajar di pendidikan formal maupun non formal yang diselenggarakan di Pesantren. Dalam hal manajemen pengelolaan pesantrenpun dilakukan pembenahan dari pola manajemen terpusat/manajemen kyai menjadi manajemen organisasi mengingat kedudukan Dewan Pengurus Yayasan di Jakarta dan Makassar maka ditunjuk Pelaksana Harian di Enrekang untuk melaksanakan tugas dan wewenang Yayasan di Enrekang.

Dalam pengelolaan pendidikan dan pembinaan santri ditunjuk seorang Direktur bersama dengan unit dibawah koordinasinya yaitu Kepala Kepesanrenan, Kepala Kekampusan dan Kepala Sekolah/Madrasah. Selama kurun waktu tersebut Pimpinan/Pelaksana Harian Yayasan telah berganti sebagaimana data berikut :

· Ustadz Moh. Hanafie DAS memimpin sampai tanggal 17 Agustus 1999 kemudian ditetapkan sebagai Kiyai Pesantren sampai sekarang

· Muh. Saleh Mallapa, tanggal 18 Agustus 1999 sampai 25 September 1999

· M. Akib Makkalu, tanggal 25 September 1999 sampai 23 Juli 2007

· Ustadz Sukardi, S.Pd.I tanggal 23 Juli 2007 sampai Juni 2008

· H. Abd. Kadir Ende, Juni 2008 sampai 11 Februari 2009

· Amran Martin, SE, 12 Februari 2009 sampai sekarang

Sedangkan Direktur Pesantren, berturut-turut sebagai berikut :

· Drs. M. Yusrifai Yunus, tanggal Agustus 1999 sampai 12 Agustus 2000

· H. Rassangan, BA tanggal 13 Agustus 2000 sampai 1 Juni 2002

· Ust. H. Abd. Muin, tanggal 1 Juni 2002 sampai 1 Juli 2004

· Drs. H. Mandeha Laogi tanggal 1 Juli 2004 sampai 24 April 2006

· Adi Warsito, S.Si tanggal 29 April 2006 sampai sekarang

Untuk memberi arah dalam pengelolaan pesantren sebagai tujuan pendirian ditunjuk Dewan Pengawas dari IMMIM yaitu : Drs. H. AG. Muhammad Ahmad dan Dra.Hj. Ulfa Fadeli Luran, M.Si. Dalam perkembangannya diganti menjadi Pembina yang sekarang dipegang oleh Drs. Rahman Pilang, M.Pd dan Ustad Drs. H. Iskandar Lamahu

Visi, Misi & Tujuan

A. Visi Pondok Pesantren

“ Terwujudnya generasi Islami yang bernuansa tiga dimensi; Iman, Ilmu dan Amal dengan Imtaq dan Iptek yang seimbang”

B. Misi Pondok Pesantren

a. Mengoptimalkan kegiatan pembinaan kepesantrenan

b. Mengarahkan kegiatan pembelajaran aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan

c. Mengintensifkan pelatihan bahasa Arab dan Inggris

d. Mengintensifkan kegiatan ekstrakurikuler

e. Mengaktifkan kegiatan ke arah terciptanya Kedisipinan, Kebersihan, Keindahan, Keamanan, Ketertiban, Kerapian dan Kerindangan

C. Tujuan Pondok Pesantren

a. Unggul pengetahuan, pemahaman dan pengamalan ajaran Agama Islam

b. Unggul dalam pencapaian nilai ujian nasional dan sekolah

c. Unggul berbahasa Arab dan Inggris

d. Unggul dalam kegiatan ekstrakurikuler

e. Unggul dalam kedisiplinan, kebersihan, keindahan, keamanan, ketertiban, kerapian dan kerindangan

Identitas Pondok Pesantren

Nama Pondok Pesantren : Pesantren Modern Darul Falah Enrekang

Nomor Statistik Pesantren : 51273160.2001

Alamat Lengkap

Jalan : Jalan Jendral Sudirman Nomor 02

Kelurahan/Desa : Galonta/Batili

Kecamatan : Enrekang

Kabupaten : Enrekang

Propinsi : Sulawesi Selatan

Nomor Telpon : (0420) 21282, 21373

Tipe Pondok Pesantren : Kombinasi

Tahun Berdiri : 1396 H/1976 M

Nama Tokoh Pendiri : H. Muhammadong

Prof. DR. Ir. H. Beddu Amang, M.A

Penyelenggara : Yayasan Pendidikan Islam Enrekang (YPIE)

Rabu, 18 Mei 2011

Hadapi Si Pencuri Waktu

Mari sempatkan sejenak untuk diam merenungkan seberapa efektifkah kita dalam memanfaatkan waktu. Pencuri waktu tidak ada habisnya berkeliaran di kehidupan kita, apabila kita tidak menaklukannya, secara perlahan ia akan menjerumuskan kita ke dalam lembah kekecewaan dan kegagalan.

Tidur

Salah satu pencuri waktu paling sukses di kehidupan kita adalah tidur. Tepatkah waktu yang kita alokasikan untuk kebutuhan tidur? Tidur seharusnya menjadi charger untuk mengisi kembali kekuatan untuk memulai hari. Namun ia bisa menjadi pencuri ulung yang sangat berbahaya bagi kita apabila kita mengalokasikan kegiatan tersebut secara tidak proporsional. Berapa persen waktu hidup kita di dunia ini untuk tidur? Jika kita tidur lebih dari 8 jam sehari, berarti kita hampir menghabiskan 1/3 waktu hidup kita hanya untuk menemani bantal dan guling kita.


Habibie, seorang yang disegani oleh tidak hanya penduduk negaranya sendiri, tetapi juga oleh bangsa lain. Konon hanya menghabiskan waktu untuk tidur kurang dari 5 jam sehari demi mengejar cita-citanya. Dengan manajemen dirinya tersebut akhirnya beliau menjadi putra bangsa yang brilian. Jadi masihkah kita akan terus membuang waktu yang sangat berharga hanya untuk tidur berlebihan?.

Handphone

Pencuri waktu yang tidak kalah lihai adalah benda mungil yang hampir selalu menemani kita dimanapun kita berada, ya.. itu adalah handphone kita. Tidak bisa dipungkiri bahwa fungsi handphone sangatlah urgen di jaman ini untuk memudahkan berkomunikasi. Namun kemudahan berkomunikasi tersebut lama-lama berdampak terhadap tidak berkualitasnya komunikasi yang dilakukan.

Jejaring Sosial

Cukup banyak dari kita yang sering disibukkan untuk memberitakan kejadian kurang penting dalam hidupnya ke dalam jejaring sosial yang mereka miliki. Berapa banyak waktu yang dihabiskan untuk mengklik tombol digital warna keabuan bertuliskan “comment†atau “share†di account jejaring sosial mereka dibandingkan membuka buku-buku pengetahuan?




Marilah kita mulai bersikap bijaksana dalam menggunakan teknologi . Kemudahan yang ditawarkan oleh teknologi seharusnya dapat memacu diri kita untuk berkontribusi lebih banyak terhadap bangsa ini, bukan malah melenakan kita untuk terus bersenang-senang.

Masih banyak pencuri waktu yang menunggu kita lengah. Jangan beri kesempatan pada mereka untuk mencuri anugerah waktu yang telah diberikan oleh Tuhan yang Maha Esa kepada kita.


Adakah yang sadar betapa cepatnya bumi ini berputar?
Terasakah berapa waktu luang yang tersisa dari hidup ini?
Adakah kita telah memanfaatkan semua kesempatan yang pernah singgah di kehidupan kita dengan baik?

Sabtu, 14 Mei 2011

Enam Sikap Merusak Kepribadian

Manusia memiliki kepribadian positif dan negatif yang tercermin pada tingkah laku dalam setiap sepak terjang kehidupan sehari-hari. Sikap positif tampak dalam tindakan patuh, mencari kebenaran, introsfeksi diri, bekerja, mengadakan lapangan kehidupan. Sedangkan sikap negatif terlihat pada pembangkangan, cendrung kepada perbuatan maksiat, malas bekerja serta membuat kerusakan baik terhadap diri sendiri, keluarga maupun masyarakat.

Nabi Muhammad Saw bersabda dalam hadis yang datang dari Adi bin Hatim yang diriwayatkan oleh Addailami, ”Ada enam hal yang menyebabkan amal kebajikan menjadi sia-sia [tidak berpahala] yaitu sibuk mengurus aib orang lain, keras hati, terlalu cinta kepada dunia, kurang rasa malu, panjang angan-angan dan zalim yang terus menerus di dalam kezalimannya.”

Sibuk meneliti aib orang lain

Dia lebih suka mencari dan menyebarkan keburukan yang terdapat pada orang lain lalu membesar-besarkannya, sementara aib sendiri tidak pernah diperiksa sesuai dengan pepatah lama, ”Kuman di seberang lautan nampak, gajah dipelupuk mata tidak nampak”.

Sebuah riwayat mengisahkan seorang khalifah memperhatikan rakyatnya di tengah malam, lalu dia menemukan dalam sebuah rumah seorang lelaki dan wanita serta minuman khamar yang dihidangkan, dia masuk ke rumah itu dengan memanjat dinding sambil membentak,dan terjadilah dialok.

Khalifah: Hai musuh Allah, apa kau kira Allah akan menutupi kesalahan ini ?

Lelaki: Tuan sendiri jangan tergesa-gesa, juga tuan telah melakukan kesalahan.

Khalifah: Kesalahan apa yang saya perbuat ?

Lelaki: Kesalahan saya hanya satu yaitu apa yang Khalifah lihat sekarang, sedangkan tuan telah melakukan tiga kesalahan yaitu; memata-matai keburukan orang lain, padahal Allah melarang perbuatan itu, masuk rumah orang dengan memanjat dinding, bukankah ada pintu yang harus dilalui dan masuk rumah tanpa izin tuan rumah.

Keras hati

Artinya tidak mau menerima pengajaran yang baik, nasehat yang mengandung maslahat ditolaknya. Tidak suka segala kesalahannya dikritik apalagi dihukumi, dialah yang paling benar, disamping itu hatinya tidak tersentuh oleh penderitaan dan kesedihan orang lain.

Di masa Rasulullah SAW, terdapat suatu kejadian yang membuat semua sahabat bersedih karena matinya salah seorang anggota keluarga dari mereka, bahkan Nabi Saw pun meneteskan air matanya, sahabat-sahabat disekitarnyapun berlinang air matanya, tapi seorang sahabat nampak biasa-biasa saja, sedikitpun dia tidak tersentuh melihat kejadian itu. Lalu dia bertanya kepada Nabi Saw, maka Rasulullah menjawab, ”Itu tandanya hati yang keras”.

Orang yang keras hati cendrung egois, sombong, takabur dan tidak mau menerima kebenaran, karena hatinya telah beku dan tidak terbuka untuk menerima pengajaran yang benar.

Terlalu cinta kepada dunia

Kehidupan dunia hanya sementara sebagai musafir yang berada dalam perjalanan lalu istirahat pada sebuah tempat. Namun tidak sedikit manusia yang beranggapan tempat istirahat sejenak itulah tujuan sehingga lupa akan tujuan semula.

Diprediksi oleh Nabi Muhammad Saw, bahwa nanti pada suatu masa ummat Islam aan dikeroyok oleh ummat lain sebagaimana mereka menghadapi makanan di atas meja, padahal jumlahnya mayoritas tapi kekuatannya ibarat buih di atas lautan, mudah hancur. Saat itu ummat dihinggapi penyakit yang bernama ”Wahn” yaitu suatu bakteri yang meracuni ummat ini sehingga mereka terlalu cinta kepada dunia dan takut akan kematian.

Sedikit rasa malu

Orang yang memiliki sifat ini tidak malu-malu berbuat apapun menurut kemauannya, dosa dan maksiat suatu perbuatan sehari-hari, sedangkan benar dan salah bukan suatu ukuran.

Bila malu habis, maka akan berbuat seenaknya dan beranggapan diri lebih suci dari orang lain. Menurut Abu Hasan Al Mawardi, malu ada tiga macamnya yaitu;

1. malu kepada Allah
2. malu kepada manusia
3. malu kepada diri sendiri.


Panjang angan-angan

Sifat ini menunjukkan kekerdilan manusia, kemauannya lebih tinggi, tidak sesuai dengan kemampuan, dia suka berandai-andai. Ungkapannhya berbunyi, ”Seandainya, andai kata, apabila”. Ia hanya menghabiskan waktunya untuk berangan-angan dan berkhayal yang macam-macam, tapi sama sekali ia tidak berbuat sesuatu. Dia beranggapan bahwa mengkhayal itu benar, khayalan itu enak dan gratis. Orang yang seperti ini ibarat, ”Pungguk merindukan bulan”, atau ”Katak ingin jadi kerbau”.

Perbuatan dzalim yang terus menerus

Watak manusia karena kuat dan kuasa dia melakukan eksploitasi bangsa lain, memeras bawahan dan menindas yang lemah, bila ini dilakukan tidak henti-hentinya, maka akibatnya orangpun terus menerus menanggung dari kezhalimannya. Ahli Hikmat membagi kezhaliman menjadi tiga yaitu ; zhalim kepada Allah dengan Al Fathir ayat 32: "Kemudian kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang Menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan diantara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. yang demikian itu adalah karunia yang Amat besar."

Enam sifat inilah yang dapat menghancurkan nilai-nilai ibadah, dia ibarat air di daun keladi, amal yang dilakukan berpahala banyak tapi tertumpah tanpa meninggalkan bekas, bila enam sifat tercela ini terdapat dalam pribadi seseorang, waspadalah atas peringatan Rasulullah Saw tadi.
(Oleh Drs Mukhlis Denros di Republika)

Jumat, 13 Mei 2011

Brosur PSB PPM Darul Falah Enrekang TP. 2011/2012

Penerimaan Santri Baru Pesantren Modern Darul Falah Enrekang TP 2011/2012


PANITIA PENERIMAAN SANTRI BARU
PESANTREN MODERN DARUL FALAH ENREKANG
TAHUN PELAJARAN 2011/2012

Jalan Jenderal Sudirman No.2 Enrekang 91712 Tlp. (0420) 21373 . 21282


بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
P E N G U M U M A N
NO:03/PPSB-PMDF/EKG/V/2011
Assalamu’Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Pesantren Modern Darul Falah Enrekang yang memiliki Visi ”Membangun Generasi Bangsa Yang Islami, Berwawasan Tiga Dimensi IMAN, ILMU, AMAL Dengan IMTAQ dan IPTEK Yang Seimbang” pada Tahun Pelajaran 2011/2012 menerima santri baru jenjang TK,SMP/MTs dan SMA atau yang sederajat dengan ketentuan sebagai berikut:

WAKTU PENDAFTRAN
Tahap I : Pada Tanggal 16 Mei s/d 03 Juli 2011
Tahap II : Pada Tanggal 05 Juli s/d 14 Juli 2011

PERSYARATAN

Tingkat SMP/MTs Berijazah SD/MI atau Sederajat
Tingkat SMA Berijazah SMP/MTs atau Sederajat
Menyertakan :

  1. 1 Lembar Keterangan Lulus
  2. 1 Lembar Photo Copy Akte Kelahiran
  3. 5 Lembar Photo Copy Ijazah dilegalisir
  4. 5 Lembar Photo Copy SKHU dilegalisir
  5. Pasphoto (3×4 sebanyak 3 lembar, 2×3 sebanyak 2 lembar)

MATERI DAN PELAKSANAAN TES
Materi Ujian Seleksi Meliputi :

  1. Ilmu Pengetahuan Umum dan Agama
  2. Membaca Al Qur’an

Pelaksanaan Tes :

  1. Tes Gelombang Pertama tanggal 04 Juli 2011
  2. Tes Gelombang ke dua mendaftar langsung tes

TEMPAT PENDAFTARAN
Sekertariat Panitia Penerimaan Santri Baru
Kampus Pesantren Modern Darul Falah Enrekang:
Jalan Jenderal Sudirman No.2 Enrekang
Tlp. (0420) 21282
Hp/SMS:

Amran Martin (0811422006)
Bahrum Sindang, M.Ag (081343688087)
Endang Palondongan, SE (081241061272)
Risma, S,Pd (081355157568)

Informasi lebih lanjut silahkan menghubungi Panitia Pendaftaran

Sekertaris (Ramayana, S.E)
Ketua Panitia (Bahrum Sindang,M.Ag)

Sabtu, 16 April 2011

Kunci Ujian Nasional 2011 : Kejujuran !

Insya'Allah, para penuntut ilmu mulai besok menempuh Ujian Nasional yang akan berlangsung selama 4 hari. Ujian Nasional ini sebenarnya tidak hanya menguji kompetensi para murid di aspek materi pelajaran saja akan tetapi ada ujian moral dimana dituntut kedisiplinan mena'ati aturan ujian, salah satunya adalah kejujuran. Persentase kelulusan dengan sistem penilaian yang baru tahun ini, insyaAllah sangat terbuka lebar sehingga oleh Mendiknas ditekankan yang penting adalah kejujuran. Terlepas dari imbauan Bapak Menteri atau tidak yang jelas kejujuran harus menjadi sisi yang melekat untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Luar biasa hikmah dibalik kejujuran yang mesti kita lakukan, sebagai gambaran simak kisah berikut !


Beberapa abad lalu, di masa-masa akhir tabi’in. Di sebuah jalan, di salah satu pinggiran kota Kufah, berjalanlah seorang pemuda. Tiba-tiba dia melihat sebutir apel jatuh dari tangkainya, keluar dari sebidang kebun yang luas. Pemuda itu pun menjulurkan tangannya memungut apel yang nampak segar itu. Dengan tenang, dia memakannya. Pemuda itu adalah Tsabit. Baru separuh yang digigitnya, kemudian ditelannya, tersentaklah dia. Apel itu bukan miliknya! Bagaimana mungkin dia memakan sesuatu yang bukan miliknya?

Akhirnya pemuda itu menahan separuh sisa apel itu dan pergi mencari penjaga kebun tersebut. Setelah bertemu, dia berkata: “Wahai hamba Allah, saya sudah menghabiskan separuh apel ini. Apakah engkau mau memaafkan saya?”
Penjaga itu menjawab: “Bagaimana saya bisa memaafkanmu, sementara saya bukan pemiliknya. Yang berhak memaafkanmu adalah pemilik kebun apel ini.”
“Di mana pemiliknya?” tanya Tsabit.
“Rumahnya jauh sekitar lima mil dari sini,” kata si penjaga.
Maka berangkatlah pemuda itu menemui pemilik kebun untuk meminta kerelaannya karena dia telah memakan apel milik tuan kebun tersebut.

Akhirnya pemuda itu tiba di depan pintu pemilik kebun. Setelah mengucapkan salam dan dijawab, Tsabit berkata dalam keadaan gelisah dan ketakutan: “Wahai hamba Allah, tahukah anda mengapa saya datang ke sini?”
“Tidak,” kata pemilik kebun.
“Saya datang untuk minta kerelaan anda terhadap separuh apel milik anda yang saya temukan dan saya makan. Inilah yang setengah lagi.”
“Saya tidak akan memaafkanmu, demi Allah. Kecuali kalau engkau menerima syaratku,” katanya.
Tsabit bertanya: “Apa syaratnya, wahai hamba Allah?”
Kata pemilik kebun itu: “Kamu harus menikahi putriku.”
Si pemuda tercengang seraya berkata: “Apa betul ini termasuk syarat? Anda memaafkan saya dan saya menikahi putri anda? Ini anugerah yang besar.”
Pemilik kebun itu melanjutkan: “Kalau kau terima, maka kamu saya maafkan.”
Akhirnya pemuda itu berkata: “Baiklah, saya terima.”
Si pemilik kebun berkata pula: “Supaya saya tidak dianggap menipumu, saya katakan bahwa putriku itu buta, tuli, bisu dan lumpuh tidak mampu berdiri.”

Pemuda itu sekali lagi terperanjat. Namun, apa boleh buat, separuh apel yang ditelannya, kemana akan dia cari gantinya kalau pemiliknya meminta ganti rugi atau menuntut di hadapan Hakim Yang Maha Adil?
“Kalau kau mau, datanglah sesudah ‘Isya agar bisa kau temui istrimu,” kata pemilik kebun tersebut.

Pemuda itu seolah-olah didorong ke tengah kancah pertempuran yang sengit. Dengan berat dia melangkah memasuki kamar istrinya dan memberi salam.
Sekali lagi pemuda itu kaget luar biasa. Tiba-tiba dia mendengar suara merdu yang menjawab salamnya. Seorang wanita berdiri menjabat tangannya. Pemuda itu masih heran kebingungan, kata mertuanya, putrinya adalah gadis buta, tuli, bisu dan lumpuh. Tetapi gadis ini? Siapa gerangan dia?
Akhirnya dia bertanya siapa gadis itu dan mengapa ayahnya mengatakan begitu rupa tentang putrinya.
Istrinya itu balik bertanya: “Apa yang dikatakan ayahku?”
Kata pemuda itu: “Ayahmu mengatakan kamu buta.”
“Demi Allah, dia tidak dusta. Sungguh, saya tidak pernah melihat kepada sesuatu yang dimurkai Allah Subhanahu wa Ta’ala.”
“Ayahmu mengatakan kamu bisu,” kata pemuda itu.
“Ayahku benar, demi Allah. Saya tidak pernah mengucapkan satu kalimat yang membuat Allah Subhanahu wa Ta’ala murka.”
“Dia katakan kamu tuli.”
“Ayah betul. Demi Allah, saya tidak pernah mendengar kecuali semua yang di dalamnya terdapat ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala.”
“Dia katakan kamu lumpuh.”
“Ya. Karena saya tidak pernah melangkahkan kaki saya ini kecuali ke tempat yang diridhai Allah Subhanahu wa Ta’ala.”
Pemuda itu memandangi wajah istrinya, yang bagaikan purnama. Tak lama dari pernikahan tersebut, lahirlah seorang hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala yang shalih, yang memenuhi dunia dengan ilmu dan ketakwaannya. Bayi tersebut diberi nama Nu’man; Nu’man bin Tsabit Abu Hanifah rahimahullahu.

Duhai, sekiranya pemuda muslimin saat ini meniru pemuda Tsabit, ayahanda Al-Imam Abu Hanifah. Duhai, sekiranya para pemudinya seperti sang ibu, dalam ‘kebutaannya, kebisuan, ketulian, dan kelumpuhannya’.

Demikianlah cara pandang orang-orang shalih terhadap dunia ini. Adakah yang mengambil pelajaran?
Wallahul Muwaffiq.

Kamis, 31 Maret 2011

Menanti Peran "Memakmurkan" Kita

Dia (Allah) telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu sebagai pemakmurnya. Maka mohonlah ampunan dan bertaubatlah kepadaNya. Sesungguhnya Tuhanku Maha Dekat dan Memenuhi segala permintaan”. (Hud: 61)

Ayat ini oleh Imam Al-Alusi dijadikan dalil akan kewajiban memakmurkan bumi sesuai dengan kemampuan dan perang setiap orang yang beriman. Karena memang Allah swt telah menjadikan bumi ini dapat dan layak untuk dimakmurkan dan dijadikan manusia yang menghuninya juga mampu untuk memakmurkannya. Karenanya, menurut Ibnu Asyur, maksud dari kata ‘isti’mar’ yang sinonim dengan I’mar’ adalah aktifitas meramaikan bumi dengan penataan bangunan dan pelestarian lingkungan dengan menanam pohon dan bercocok tanam sehingga semakin panjang usia kehidupan bumi ini dengan seluruh penghuninya.

Pemahaman yang senada dikemukakan oleh Imam Zamakhsyari dalam kitab tafsir Al-Kasyaf. Secara aplikatif, beliau mengabadikan kisah tentang raja-raja Parsi. Dikisahkan bahwa raja-raja yang memerintah Parsi sepanjang pemerintahan mereka banyak membuat sungai dan menanam pohon sehingga mereka diberi kesempatan hidup lama oleh Allah swt seperti yang ditunjukkan oleh akar kata Isti’mar atau I’mar yaitu Al-‘Umr yang berarti usia. Ketika salah seorang nabi bertanya kepada Allah tentang fenomena tersebut: “Kenapa Engkau berbuat demikian kepada mereka? (dengan memperpanjang usia mereka)”. Allah menjawab: “Mereka telah menghidupkan bumiKu (dengan memakmurkannya) sehingga hamba-hambaKu dapat hidup dengan baik di atasnya”.

Ternyata usaha memakmurkan bumi dengan segala makna yang terkandung di dalamnya merupakan sarana untuk memperpanjang usia kehidupan manusia seiring dengan diperpanjangnya usia bumi dengan aktifitas imarahnya yang berkesinambungan. Namun memang pada realitasnya, usaha memelihara, mempertahankan, meningkatkan kemakmuran bumi dengan segala aktifitasnya seringkali diabaikan, bahkan cenderung tidak mendapat perhatian yang serius. Akhirnya banyak harta kekayaan milik bangsa ini yang dihamburkan dengan semena-mena dan kita selaku pemilik bersama bumi ini secara kolektif tidak pernah menghiraukannya, mempertanyakan, meminta pertanggung jawaban, maupun menghalangi perilaku kontra imarah tersebut. Sehingga semua harus menanggung akibat dari perilaku segelintir orang terhadap bumi ini.

Memang secara konseptual, ayat di atas berbicara tentang peran ketiga manusia yaitu peran Imarah dalam arti mengelola dan memakmurkan bumi untuk kepentingan dan kemaslahatan bersama yang tidak kalah pentingnya dengan dua peran inti lainnya. Karenanya, peran ketiga ini sangat terikat dan melekat secara sinergis dengan dua peran lainnya; peran ubudiyah seperti yang tersirat di surat Adz-Dzariyat: 56, serta peran khilafah yang diantaranya ditunjukkan oleh surat Al-Baqarah: 30. Bahkan peran Imarah merupakan bentuk nyata dari aplikasi peran Ubudiyah dan Khilafah yang tidak dapat dipisahkan. Justru hasil dan nilai dari amaliah ibadah dan khilafah ada pada aktifitas memakmurkan bumi Allah swt.

Ayat lain yang berbicara tentang Imarah adalah surat Ar-Rum: 9: “Dan tidaklah mereka bepergian di bumi lalu melihat bagaimana kesudahan orang-orang sebelum mereka (yang mendustakan Rasul). Mereka itu lebih kuat dan telah mengolah bumi serta memakmurkannya melebihi dari apa yang telah mereka makmurkan”. Allah swt menggambarkan melalui ayat ini tentang kaum terdahulu sebelum umat nabi Muhammad saw yang dipanjangkan usianya oleh Allah dengan kekuatan fisik dan banyaknya aktifitas Imarah yang mereka lakukan. Tidak ada yang menandingi kekuatan fisik dan aktifitas imarah mereka. Namun sangat disayangkan mereka kemudian dibinasakan oleh Allah karena mendustakan karunia nikmat Allah tersebut dan mendustakan para Rasul. Demikian aktifitas imarah yang mereka upayakan turut menambah usia dan kemakmuran mereka, jika mereka tidak mendustakan Allah dan para RasulNya.

Dan ternyata secara aplikatif, perhatian Rasulullah terhadap upaya memelihara kesinambungan kehidupan dengan program ketahanan pangannya sungguh sangat besar. Hal ini dibuktikan dengan perintah dan anjurannya untuk bercocok tanam memenuhi hajat manusia. Bahkan diantara amal yang masih dianjurkan sebelum hari kiamat adalah menanam biji tumbuh-tumbuhan. Dan seseorang dapat melindungi dirinya dari sentuhan api neraka hanya dengan sebiji kurma sekalipun: “Cegahlah dirimu dari neraka, meskipun dengan dengan sebiji kurma”. (H.R. Bukhari, Muslim, Tirmidzi dan Nasa’i)

Dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh Bukhari disebutkan pahala dan kebaikan siapapun yang menjaga kesinambungan pangan dengan aktifitas bercocok tanam misalnya:

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَغْرِسُ غَرْسًا أَوْ يَزْرَعُ زَرْعًا فَيَأْكُلُ مِنْهُ طَيْرٌ أَوْ إِنْسَانٌ أَوْ بَهِيمَةٌ إِلَّا كَانَ لَهُ بِهِ صَدَقَةٌ

Tidaklah seorang muslim itu menanam tanaman kemudian tanaman itu dimakan oleh burung, atau orang lain atau hewan sekalipun melainkan akan menjadi pahala sedekah untuknya”.

Bahkan dalam riwayat Muslim dari sahabat Jabir bin Abdillah ditambahkan sekiranya tanaman itu dicuri oleh seseorang tetap akan menjadi pahala sedekah untuk orang yang menanamnya. Sahabat Mu’awiyah ra turut mencontohkan aktifitas imarah ini dengan banyak menanam pohon di akhir hayatnya. Ketika ditanya alasan ia berbuat demikian, ia melantunkan bait syair:

لَيْسَ الفَتَى بِفتَي لاَيسْتَضَاءُ بِه وَلاَ تَكُونُ لَهُ في الأَرْضِ آثَارُ

“Bukanlah seorang pemuda itu yang tidak memiliki sesuatu yang dapat menaunginya kelak. Bukan pula seseorang yang tidak memiliki peninggalan di bumi ini (sepeninggalnya)”.

Demikian sikap moral yang ditunjukkan oleh generasi terdahulu. Mereka berlomba-lomba menanam dan memberi peninggalan yang terbaik untuk kemaslahatan generasi berikutnya. Semboyan mereka yang seharusnya diteladani oleh kita adalah: “orang-orang sebelum kita telah banyak menanam untuk kita makan. Maka kita juga menanam agar dapat dimakan oleh orang-orang setelah kita.

قد غرس من قبلنا فأكلنا ونغرس نحن ليأكل من بعدنا

Sungguh sangat kontradiktif dengan realitas kita sekarang yang justru berlomba-lomba untuk mengeruk hasil bumi untuk memperkaya diri sendiri dengan mengabaikan sisi kelestarian, ketahanan dan kemakmuran bumi. Akibatnya, banyak bencana alam yang terjadi yang justru akan mengurangi dan memperpendek usia kehidupan manusia karena pendeknya usia bumi yang dihuninya akibat kerusakan yang diperbuat oleh tangan-tangan manusia sendiri yang tidak bertanggung jawab.

Maka benteng yang kokoh untuk berjalannya aktifitas imarah dalam segala bentuknya adalah amanah. Agar program imarah untuk kemaslahatan bersama dapat berjalan dengan baik, setiap orang dituntut untuk memahami prinsip amanah berupa sesuatu yang harus dipelihara dan dipertahankan keberadaannya, serta sedapat mungkin dikembangkan dan diberdayakan untuk masa depan kehidupan yang lebih baik. Dalam konteks ini, surat An-Nisa’: 58 merupakan panduan yang jelas karena secara redaksional menggunakan redaksi yang menunjukkan penekanan dan penegasan: “Sesungguhnya Allah memerintahkan kalian semua agar menyampaikan amanah kepada ahlinya (yang berhak menerimanya)”. Tidak dengan redaksi: “Sesungguhnya Aku” atau perintah langsung misalnya: “Sampaikanlah amanah kepada pemiliknya!” dan sebagainya. Dengan menampilkan lafadz “Allah” dalam ayat tersebut yang tidak digantikan dengan dhamir jelas terkandung makna ketegasan dan penekanan dalam perintahNya.

Syekh Shalih Al-‘Utsaimin ketika menafsirkan ayat ini membagikan jenis amanah yang harus ditunaikan kepada dua bentuk, yaitu amanah yang terkait dengan hak-hak Allah swt dan amanah yang terkait dengan hak-hak manusia. Justru yang seringkali terabaikan adalah jenis amanah kedua, yaitu amanah yang berhubungan dengan hak-hak anak Adam, terutama dalam konteks ‘Al-Amanah Al-Maliyah’ termasuk di dalamnya memelihara kelestarian dan ketahanan bumi sebagai harta yang tidak ternilai harganya.

Sudah saatnya umat Islam, terutama insan-insan pesantren lebih menonjolkan peran Imarah yang akan dirasakan hasilnya oleh seluruh manusia, bahkan makhluk Allah seluruhnya. Peran ubudiyah yang terus dijalankan seyogyanya akan memperkuat peran khilafah yang selanjutnya akan meningkatkan kontribusi dan peran Imarah dalam bentuk yang ril untuk kemaslahatan bersama. Bukankah orang yang paling baik adalah orang yang paling banyak memberikan manfaat kepada orang banyak? Rasulullah saw bersabda: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak memberikan manfaat kepada sesama manusia”. (H.R. Bukhari)

Oleh: Dr. Attabiq Luthfi, MA (Dakwatuna.com)