TERIMA KASIH KUNJUNGAN ANDA DI WEBSITE PONDOK PESANTREN MODERN DARUL FALAH ENREKANG >>>> THANKS FOR YOUR VISITING ON DARUL FALAH ISLAMIC BOARDING SCHOOL WEBSITE

Kamis, 31 Maret 2011

Menanti Peran "Memakmurkan" Kita

Dia (Allah) telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu sebagai pemakmurnya. Maka mohonlah ampunan dan bertaubatlah kepadaNya. Sesungguhnya Tuhanku Maha Dekat dan Memenuhi segala permintaan”. (Hud: 61)

Ayat ini oleh Imam Al-Alusi dijadikan dalil akan kewajiban memakmurkan bumi sesuai dengan kemampuan dan perang setiap orang yang beriman. Karena memang Allah swt telah menjadikan bumi ini dapat dan layak untuk dimakmurkan dan dijadikan manusia yang menghuninya juga mampu untuk memakmurkannya. Karenanya, menurut Ibnu Asyur, maksud dari kata ‘isti’mar’ yang sinonim dengan I’mar’ adalah aktifitas meramaikan bumi dengan penataan bangunan dan pelestarian lingkungan dengan menanam pohon dan bercocok tanam sehingga semakin panjang usia kehidupan bumi ini dengan seluruh penghuninya.

Pemahaman yang senada dikemukakan oleh Imam Zamakhsyari dalam kitab tafsir Al-Kasyaf. Secara aplikatif, beliau mengabadikan kisah tentang raja-raja Parsi. Dikisahkan bahwa raja-raja yang memerintah Parsi sepanjang pemerintahan mereka banyak membuat sungai dan menanam pohon sehingga mereka diberi kesempatan hidup lama oleh Allah swt seperti yang ditunjukkan oleh akar kata Isti’mar atau I’mar yaitu Al-‘Umr yang berarti usia. Ketika salah seorang nabi bertanya kepada Allah tentang fenomena tersebut: “Kenapa Engkau berbuat demikian kepada mereka? (dengan memperpanjang usia mereka)”. Allah menjawab: “Mereka telah menghidupkan bumiKu (dengan memakmurkannya) sehingga hamba-hambaKu dapat hidup dengan baik di atasnya”.

Ternyata usaha memakmurkan bumi dengan segala makna yang terkandung di dalamnya merupakan sarana untuk memperpanjang usia kehidupan manusia seiring dengan diperpanjangnya usia bumi dengan aktifitas imarahnya yang berkesinambungan. Namun memang pada realitasnya, usaha memelihara, mempertahankan, meningkatkan kemakmuran bumi dengan segala aktifitasnya seringkali diabaikan, bahkan cenderung tidak mendapat perhatian yang serius. Akhirnya banyak harta kekayaan milik bangsa ini yang dihamburkan dengan semena-mena dan kita selaku pemilik bersama bumi ini secara kolektif tidak pernah menghiraukannya, mempertanyakan, meminta pertanggung jawaban, maupun menghalangi perilaku kontra imarah tersebut. Sehingga semua harus menanggung akibat dari perilaku segelintir orang terhadap bumi ini.

Memang secara konseptual, ayat di atas berbicara tentang peran ketiga manusia yaitu peran Imarah dalam arti mengelola dan memakmurkan bumi untuk kepentingan dan kemaslahatan bersama yang tidak kalah pentingnya dengan dua peran inti lainnya. Karenanya, peran ketiga ini sangat terikat dan melekat secara sinergis dengan dua peran lainnya; peran ubudiyah seperti yang tersirat di surat Adz-Dzariyat: 56, serta peran khilafah yang diantaranya ditunjukkan oleh surat Al-Baqarah: 30. Bahkan peran Imarah merupakan bentuk nyata dari aplikasi peran Ubudiyah dan Khilafah yang tidak dapat dipisahkan. Justru hasil dan nilai dari amaliah ibadah dan khilafah ada pada aktifitas memakmurkan bumi Allah swt.

Ayat lain yang berbicara tentang Imarah adalah surat Ar-Rum: 9: “Dan tidaklah mereka bepergian di bumi lalu melihat bagaimana kesudahan orang-orang sebelum mereka (yang mendustakan Rasul). Mereka itu lebih kuat dan telah mengolah bumi serta memakmurkannya melebihi dari apa yang telah mereka makmurkan”. Allah swt menggambarkan melalui ayat ini tentang kaum terdahulu sebelum umat nabi Muhammad saw yang dipanjangkan usianya oleh Allah dengan kekuatan fisik dan banyaknya aktifitas Imarah yang mereka lakukan. Tidak ada yang menandingi kekuatan fisik dan aktifitas imarah mereka. Namun sangat disayangkan mereka kemudian dibinasakan oleh Allah karena mendustakan karunia nikmat Allah tersebut dan mendustakan para Rasul. Demikian aktifitas imarah yang mereka upayakan turut menambah usia dan kemakmuran mereka, jika mereka tidak mendustakan Allah dan para RasulNya.

Dan ternyata secara aplikatif, perhatian Rasulullah terhadap upaya memelihara kesinambungan kehidupan dengan program ketahanan pangannya sungguh sangat besar. Hal ini dibuktikan dengan perintah dan anjurannya untuk bercocok tanam memenuhi hajat manusia. Bahkan diantara amal yang masih dianjurkan sebelum hari kiamat adalah menanam biji tumbuh-tumbuhan. Dan seseorang dapat melindungi dirinya dari sentuhan api neraka hanya dengan sebiji kurma sekalipun: “Cegahlah dirimu dari neraka, meskipun dengan dengan sebiji kurma”. (H.R. Bukhari, Muslim, Tirmidzi dan Nasa’i)

Dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh Bukhari disebutkan pahala dan kebaikan siapapun yang menjaga kesinambungan pangan dengan aktifitas bercocok tanam misalnya:

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَغْرِسُ غَرْسًا أَوْ يَزْرَعُ زَرْعًا فَيَأْكُلُ مِنْهُ طَيْرٌ أَوْ إِنْسَانٌ أَوْ بَهِيمَةٌ إِلَّا كَانَ لَهُ بِهِ صَدَقَةٌ

Tidaklah seorang muslim itu menanam tanaman kemudian tanaman itu dimakan oleh burung, atau orang lain atau hewan sekalipun melainkan akan menjadi pahala sedekah untuknya”.

Bahkan dalam riwayat Muslim dari sahabat Jabir bin Abdillah ditambahkan sekiranya tanaman itu dicuri oleh seseorang tetap akan menjadi pahala sedekah untuk orang yang menanamnya. Sahabat Mu’awiyah ra turut mencontohkan aktifitas imarah ini dengan banyak menanam pohon di akhir hayatnya. Ketika ditanya alasan ia berbuat demikian, ia melantunkan bait syair:

لَيْسَ الفَتَى بِفتَي لاَيسْتَضَاءُ بِه وَلاَ تَكُونُ لَهُ في الأَرْضِ آثَارُ

“Bukanlah seorang pemuda itu yang tidak memiliki sesuatu yang dapat menaunginya kelak. Bukan pula seseorang yang tidak memiliki peninggalan di bumi ini (sepeninggalnya)”.

Demikian sikap moral yang ditunjukkan oleh generasi terdahulu. Mereka berlomba-lomba menanam dan memberi peninggalan yang terbaik untuk kemaslahatan generasi berikutnya. Semboyan mereka yang seharusnya diteladani oleh kita adalah: “orang-orang sebelum kita telah banyak menanam untuk kita makan. Maka kita juga menanam agar dapat dimakan oleh orang-orang setelah kita.

قد غرس من قبلنا فأكلنا ونغرس نحن ليأكل من بعدنا

Sungguh sangat kontradiktif dengan realitas kita sekarang yang justru berlomba-lomba untuk mengeruk hasil bumi untuk memperkaya diri sendiri dengan mengabaikan sisi kelestarian, ketahanan dan kemakmuran bumi. Akibatnya, banyak bencana alam yang terjadi yang justru akan mengurangi dan memperpendek usia kehidupan manusia karena pendeknya usia bumi yang dihuninya akibat kerusakan yang diperbuat oleh tangan-tangan manusia sendiri yang tidak bertanggung jawab.

Maka benteng yang kokoh untuk berjalannya aktifitas imarah dalam segala bentuknya adalah amanah. Agar program imarah untuk kemaslahatan bersama dapat berjalan dengan baik, setiap orang dituntut untuk memahami prinsip amanah berupa sesuatu yang harus dipelihara dan dipertahankan keberadaannya, serta sedapat mungkin dikembangkan dan diberdayakan untuk masa depan kehidupan yang lebih baik. Dalam konteks ini, surat An-Nisa’: 58 merupakan panduan yang jelas karena secara redaksional menggunakan redaksi yang menunjukkan penekanan dan penegasan: “Sesungguhnya Allah memerintahkan kalian semua agar menyampaikan amanah kepada ahlinya (yang berhak menerimanya)”. Tidak dengan redaksi: “Sesungguhnya Aku” atau perintah langsung misalnya: “Sampaikanlah amanah kepada pemiliknya!” dan sebagainya. Dengan menampilkan lafadz “Allah” dalam ayat tersebut yang tidak digantikan dengan dhamir jelas terkandung makna ketegasan dan penekanan dalam perintahNya.

Syekh Shalih Al-‘Utsaimin ketika menafsirkan ayat ini membagikan jenis amanah yang harus ditunaikan kepada dua bentuk, yaitu amanah yang terkait dengan hak-hak Allah swt dan amanah yang terkait dengan hak-hak manusia. Justru yang seringkali terabaikan adalah jenis amanah kedua, yaitu amanah yang berhubungan dengan hak-hak anak Adam, terutama dalam konteks ‘Al-Amanah Al-Maliyah’ termasuk di dalamnya memelihara kelestarian dan ketahanan bumi sebagai harta yang tidak ternilai harganya.

Sudah saatnya umat Islam, terutama insan-insan pesantren lebih menonjolkan peran Imarah yang akan dirasakan hasilnya oleh seluruh manusia, bahkan makhluk Allah seluruhnya. Peran ubudiyah yang terus dijalankan seyogyanya akan memperkuat peran khilafah yang selanjutnya akan meningkatkan kontribusi dan peran Imarah dalam bentuk yang ril untuk kemaslahatan bersama. Bukankah orang yang paling baik adalah orang yang paling banyak memberikan manfaat kepada orang banyak? Rasulullah saw bersabda: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak memberikan manfaat kepada sesama manusia”. (H.R. Bukhari)

Oleh: Dr. Attabiq Luthfi, MA (Dakwatuna.com)

Jumat, 11 Februari 2011

Dokumentasi Penyusunan Program Kerja OSDF 2011/2012

Pembina OSDF mendampingi para pengurus dalam penyusunan program kerja


Pembina memberi arah sehingga program sesuai kebutuhan dan berjalan efektif
Sekretaris OSDF menampilkan dan mengupdate program yang disepakati
Pengurus OSDF Putri dan Pembina berikhtiar menyusun program kerja yang baik
Pengurus OSDF Putri 2011/2012
Sesi Pemaparan program masing -masing seksi
Berfoto disela-sela kegiatan

Valentine Day : Sejarah Dan Hancurnya Akhlak

Valentine's Day dengan segala pernak-perniknya sesungguhnya tidak lepas dari arus utama konspiratif yang hendak menghancurkan ketauhidan seperti yang diajarkan para penyampai Risallah sejak Adam a.s. hingga Muhammad SAW. Banyak sisi dari 'hari istimewa' tersebut yang belum banyak diketahui. Banyak yang menyangka umat Islam dilarang mengikuti ritual tersebut semata-mata karena bersumber dari ritual kaum Nasrani. Ini salah besar. Gereja Katolik pun pernah mengeluarkan larangan umatnya untuk ikut-ikutan Valentine's Day. Bahkan Katolik Ensiklopedia menyatakan ritual Valentine's Day berasal dari ritual pemujaan terhadap setan (The Satanic Ritual) dan paganisme. Bukan itu saja, daya hancur Valentine's Day juga dahsyat, terutama dari sisi akidah dan moral. Sasaran utama penghancuran ini tentu saja generasi muda.

Dalam bahasa Inggris, "Kasih Sayang" ditulis sebagai "Affection", bukan "Love". Ada perbedaan mendasar antara istilah Affection dengan Love. Yang pertama lebih dekat dengan perasaan atau curahan hati, bersifat kejiwaan yang halus dan indah, sedang yang kedua "Love", lebih dekat dengan tindakan yang mengarah kepada kegiatan atau aktifitas seksual. Mungkin sebab itu, hubungan seksual disebut sebagai "Making Love".

Nah, terkait dengan pemahaman tersebut, Valentine's Day sesungguhnya tidak tepat jika diartikan sebagai "Hari Kasih Sayang". Karena peristiwa yang terjadi berabad tahun silam, yang kini diperingati sebagai Hari Valentine, berawal dari suatu peristiwa yang lebih tepat disebut sebagai pesta kemaksiatan (Making Love Party) ketimbang Pesta Kasih Sayang. Peristiwa tersebut merupakan suatu ritual bagi bangsa Pagan Roma yang dinamakan Lupercalian Festival.

Dalam kepercayaan Pagan Roma, bulan Februari dianggap sebagai bulan penuh "cinta" (Love, bukan affection) dan bulan kesuburan (baca: masa birahi dan syahwat). Lupercalian atau Lupercus sendiri merupakan nama Dewa Kesuburan (Dewa Pertanian dan Gembala), yang dipercaya berwujud seorang lelaki perkasa dan berpakaian setengah telanjang dengan hanya menutupi tubuhnya dengan kulit kambing. Mitologi mengenai Lupercus terkait erat dengan kisah Remus dan Romulus yang tinggal di bukit Palatine dan diyakini kisahnya mengawali pembangunan Kota Roma.

Selain Roma, kepercayaan Pagan Yunani Kuno juga meyakini bulan Februari -- merupakan bulan Gamelion, yang dipersembahkan kepada perkawinan suci Dewa Zeus dan Hera. Baik kepercayaan Pagan Yunani, keduanya meyakini bahwa Februari merupakan bulan penuh gairah dan cinta (baca:syahwat).

LUPERCALIA FEST
Lupercalia Festifal merupakan sebuah perayaan yang berlangsung pada tanggal 13 hingga 18 Februari, dimana pada tanggal 15 Februari mencapai puncaknya. Dua hari pertama (13-14 Februari), dipersembahkan untuk Dewi Cinta (Queen of Feverish Love) bernama Juno Februata. Pada tanggal 13-nya, di pagi hari, pendeta tertinggi Pagan Roma menghimpun para pemuda dan pemudi untuk mendatangi kuil pemujaan. Mereka dipisah dalam dua barisan dan sama-sama menghadap altar utama. Semua nama perempuan muda ditulis dalam lembaran-lembaran kecil. Satu lembaran kecil hanya boleh berisi satu nama. Lembaran-lembaran yang berisi nama-nama perempuan muda itu lalu dimasukkan ke dalam wadah mirip kendi besar, atau ada juga yang menyebutkan di masukkan ke dalam wadah mirip botol besar.

Setelah itu, sang pendeta yang memimpin upacara mempersilahkan para pemuda maju satu persatu untuk mengambil satu nama gadis yang telah berada di dalam wadah secara acak, hingga wadah tersebut kosong. Setiap nama gadis yang terambil, maka sang empunya nama harus menjadi kekasih pemuda yang mengambilnya dan berkewajiban melayani segala yang diinginkan sang pemuda tersebut selama setahun hingga Lupercalian Festival tahun depan.

Tanpa ikatan perkawinan, mereka bebas berbuat apa saja. Dan malam pertama di hari itu, malam menjelang 14 Februari hingga malam menjelang 15 Februari, di seluruh kota, para pasangan baru itu merayakan apa yang kini terlanjur disebut sebagai 'Hari Kasih Sayang'. Suatu istilah yang benar-benar keliru dan lebih tepat disebut sebagai 'Making Love Day' alias Malam kemaksiatan.

Pada tanggal 15 Februari, setelah sehari penuh para pasangan baru itu mengumbar syahwatnya, mereka secara berpasang-pasangan kembali mendatangi kuil pemujaan untuk memanjatkan doa kepada Dewa Luperalia agar dilindungi dari gangguan serigala dan roh jahat. Dalam upacara ini, pendeta pagan Roma akan membawa dua ekor kambing dan seekor anjing yang kemudian disembelih di atas altar sebagai persembahan kepada Dewa Lupercalia atau Lupercus. Persembahan ini kemudian diikuti dengan ritual meminum anggur.

Setelah itu, para pemuda mengambil satu lembar kulit kambing yang telah tersedia dan berlari di jalan-jalan kota sambil diikuti oleh para gadis. Jalan-jalan kota Roma meriah oleh teriakan dan canda tawa para muda-mudi, di mana yang perempuan berlomba-lomba mendapatkan sentuhan kulit kambing terbanyak dan yang pria berlomba-lomba menyentuh gadis sebanyak-banyaknya.

Para perempuan Romawi kuno di zaman itu sangat percaya bahwa kulit kambing yang dipersembahkan kepada Dewa Lupercus tersebut memiliki daya magis yang luar biasa, yang mampu membuat mereka bertambah subur, bertambah muda, dan bertambah cantik. Semakin banyak mereka bisa menyentuh kulit kambing tersebut maka mereka yakin akan bertambah cantik dan subur.

Upacara yang sangat dinanti-nantikan orang-orang muda di Roma ini menjadi salah satu perayaan favorit. Hal ini tidak aneh mengingat kehidupan masyarakat Pagan Roma memang menuhankan keperkasaan (kejantanan), kecantikan, dan seks. Bahkan para Dewa dan Dewi -tuhan mereka- digambarkan sebagai sesosok lelaki perkasa dan perempuan cantik nan menawan, dengan pakaian yang minim bahkan telanjang sama sekali. Bangsa Roma memang sangat memuja kesempurnaan raga. Banyak literatur menulis tentang tradisi Pagan Roma tersebut. Sampai sekarang, pusat-pusat kebugaran yang menjadi salah satu 'tren orang modern' disebut sebagai Gymnasium atau disingkat Gym saja, yang berasal dari istilah Roma yang mengacu pada tempat olah tubuh. Tradisi pemujaan terhadap keperkasaan dan kecantikan ini, dan tentunya semua bermuara pada pendewaan terhadap syahwat, tidak menghilang saat Roma dijadikan pusat Gereja Barat oleh Kaisar Konstantin.

sumber : Buletin Jum'at YLKMuslim Batam/2011

Jumat, 31 Desember 2010

Creativity, gamesmanship and solidarity

OSDF'S activity theme 2010 on semester holiday 1 T.P 2010 / 2011 is" Increasing creativity, santri's gamesmanship and solidarity".

Creativity

make something new, variation, offbalance and deep positip's activity. creativity can be coached and at develops by willingness and motivation basic that good.

Gamesmanship
there is 3 esensi gamesmanship basic which is (1 ) basal are have obedient ruling, on the level (2 ) deep processes,shall labor, try maximal, don't give up and (3 ) rekasi to usufruct, accepting excess versus or lack for self and respecting and prices foe.

Solidarity
with meaning solid headword consolidated, cohesive so integrity and regular solidarity awakes and improved between santri in all activity and good activity.



Senin, 27 Desember 2010

AKSI PORSENDA 2010


Mengusung Tema " Mengembangkan Kreatifitas, Sportivitas dan Solidaritas Santri" Organisasi Santri Darul Falah (OSDF) melaksanakan agendanya dengan aksi-aksi kreatif dan berkualitas. Selamat Bertanding !


Memulai Hari Dengan Optimisme

Mari kita coba untuk melukis gambar satu hari dalam kehidupan Rasulullah SAW. Beliau bangun jauh sebelum fajar, ketika tirai gelap malam masih meliputi segala sesuatu. Saat beliau mulai bergerak, beliau berkata, "Segala puji bagi Allah yang telah mengembalikan semangat saya, memberikan saya kekuatan fisik dan mengizinkan saya untuk memuliakan-Nya."

Seberat apapun tantangan yang bakal dihadapi, beliau menyambutnya dengan optimisme. Dan, hal sekecil apapun tak luput disyukuri, termasuk kembalinya semangat untuk memulai hari.

Bahkan, terbit dan tenggelamnya matahari, adalah juga hal yang perlu kita syukuri. "Allah-lah yang menjadikan malam untuk kamu supaya kamu beristirahat padanya; dan menjadikan siang terang benderang. Sesungguhnya Allah benar-benar mempunyai karunia yang dilimpahkan atas manusia, akan tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur. " (QS Al Mu'min [40]: 61)

Kehidupan kita adalah suatu berkah terbesar yang kita terima dari Allah. Wujud terima kasih kita adalah dengan memanfaatkan hidup sebaik-baiknya. Allah menawarkan kesempatan keberhasilan bagi siapa saja yang ingin berhasil. Intinya, sikap optimis harus selalu dikedepankan.

Optimistis adalah suatu sikap yang selalu berpandangan baik dalam menghadapi segala hal. Optimis adalah lawan kata dari putus asa. Putus asa timbul karena tiada kemauan dalam hati dan kurang meyakini rahmat Allah. Sikap optimistis merupakan bentuk keyakinan akan kemurahan Allah dan karunia-Nya dan bahwa janji Allah adalah benar adanya.

Orang yang mempunyai sikap optimistis ialah orang yang mempunyai ketaatan dan menegakkan semua yang dituntut oleh keimanannya. Dia berharap agar Allah tidak memalingkannya, menerima amalnya, dan tidak menolaknya, serta melipatgandakan pahala-Nya.

Allah telah berfirman: “Jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya, kecuali Dia; dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak karunia-Nya” (QS Yunus [10]:107)

Sebaliknya orang yang bersikap pesimis sering kali merasa bimbang apabila menghadapi permasalahan hidup. Sikap bimbang akan membawanya pada sikap tidak percaya diri, mudah menyalahkan orang lain, bahkan terkadang tak jarang mengurangi kadar keimanannya pada Allah.

Bagaimana mengalahkan sikap bimbang? Kembalikan semuanya pada Allah. Bukankah kata-Nya, setelah kesulitan selalu akan ada kemudahan?

Sabtu, 25 Desember 2010

Berita Gambar PORSENDA 2010











Alhamdulillah, setelah selesai Ulangan Semester 1 Tahun Pelajaran 2010/2011 yang berakhir Hari Selasa, 23 Desember 2010 selama sepekan santriwan/santriwati ponpes modern darul falah enrekang melaksanakan agenda kerja OSDF yaitu PORSENDA (Pekan Olahraga, Seni dan Dakwah). Berikut berita gambar dalam bentuk foto dokumentasi pada hari 1 dan 2 kegiatan.

Selasa, 21 Desember 2010

Adab Makan

Hai anak Adam, pakai" lah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan." (QS AlA'raf [7]: 31).

Makna `janganlah berlebih-lebihan' dalam ayat di atas sebagaimana dijelaskan dalam Alquran dan terjemahannya adalah janganlah melampaui batas yang dibutuhkan oleh tubuh dan jangan pula melampaui batas-batas makanan yang dihalalkan. Terkait hal itu, Rasulullah SAW bersabda, "Tidak ada sesuatu yang lebih buruk untuk dipenuhi oleh seseorang selain perutnya, padahal cukup beberapa suapan untuk menegakkan punggungnya.
Bila terpaksa ia lakukan, maka sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga lagi untuk bernapas."

(HR Ahmad, Nasa'i, Tirmidzi, dan beberapa perawi lainnya).

Makan secara berlebihan dapat menyebabkan kelambanan dan kelebihan beban pada pencernaan serta fermentasi makanan dalam perut. Hal ini terkadang bisa mengakibatkan luka dan peradangan pada perut, kerongkongan, dan usus dua belas jari.

Hilmy al-Khuly dalam bukunya Mukjizat Kesembuhan Dalam Gerakan Shalat, menyebutkan, bila perut dipenuhi oleh makanan, kemudian timbul proses fermentasi di dalamnya, maka dapat menimbulkan berbagai efek negatif, yaitu in'ikas ashabiy (reflek gerak pemantulan dan pembalikan saraf) terhadap kondisi jantung; idhthirab al-qalb (denyut jantung berdebar-debar) yang tekanannya bisa menurun dan bisa pula meninggi; dan terjadinya kejang jantung. Karena itu, Rasulullah SAW memberikan tuntunan dalam menyantap makanan sebagai upaya mengendalikan syahwat makan. Pertama, qul bismillaahi, ucapkanlah bismillah ketika hendak makan. Kedua, kul biyamiinika, makanlah dengan tangan kananmu. Dan ketiga, kul mimmaa yaliika, makanlah yang terdekat denganmu. (HR Muslim).

Dalam hadis yang lain, Rasulullah SAW bersabda, "Kami adalah kaum yang tidak akan makan sampai kami merasa lapar. Jika kami makan, maka kami makan tidak sampai kenyang. (Rasulullah juga bersabda) Tinggalkanlah makanan (justru) ketika engkau sangat menginginkannya."

Dengan demikian, melalui pengendalian syahwat makan ini, kita akan terhindar dari berbagai macam penyakit yang mengancam kehidupan. Sebab, perut adalah sarangnya penyakit, sebagaimana dikatakan Harits bin Kaldah, seorang tabib bangsa Arab, "Diet (mengatur pola makan) adalah pokok segala pengobatan, sedangkan perut adalah sarang penyakit. Oleh karena itu, kembalikanlah tubuh pada kebutuhan proporsionalnya." Wallahu a'lam.

Senin, 06 Desember 2010

Memaknai Tahun Baru 1432 Hijriah

Introspeksi Diri atau Bermuhasabah

Dengan memasuki tahun baru Hijriah, kita akan memasuki 1 Muharram. Yang berarti kita akan meninggalkan tahun lalu, dan memasuki tahun baru , yakni tahun baru 1431 Hijriah. Penyambutan tahun baru ini tidak selayaknya seperti yang dilakukan orang-orang non Muslim saat merayakan tahun baru Masehi, tetapi merayakannya sesuai dengan yang dicontohkan Rasulullah SAW.

1291506353973931872

Sekarang kita masih hidup, tetapi siapa tahu besok atau lusa atau minggu depan atau bulan depan atau tahun depan, kita akan mati. Sekarang kita masih dapat menikmati tahun baru Hijriah, tetapi siapa tahu tahun depan kita sudah tidak ada?.

Berbahagialah bagi mereka yang memperoleh nikmat umur yang panjang dan mengisinya dengan amalan-amalan yang baik dan perbuatan-perbuatan yang bijak. Rasulullah SAW bersabda : “Sebaik-baik manusia adalah orang yang panjang umurnya dan baik amalannya (HR Ahmad)

Dalam menyambut tahun baru Hijriah, sangat penting bagi kita untuk berkaca diri, menilai dan menimbang amalan-amalan yang telah kita perbuat dan dosa atau maksiat yang telah kita kerjakan. Penilaian ini bukan hanya untuk mengetahui seberapa besar perbuatan amal atau dosa kita, tapi agar tahun mendatang lebih baik dengan memperbanyak ibadah dan amal saleh serta mengurangi perbuatan dosa dan amal salah.

Kisah Tentang Sahabat Umar bin Chatab tentang Umur Manusia

Adalah satu riwayat yang menceritakan tentang anak Umar bin Chatab, kembali pulang dari sekolahnya sambil menghitung tambalan-tambalan yang melekat di bajunya yang sudah usang dan jelek. Dengan rasa kasihan Umar sang Amirul Mukminin (Pemimpin Kaum Musliminn), sebagai ayahnya mengirim sepucuk surat kepada bendaharawan negara, yang isinya minta agar beliau diberi pinjaman uang sebanyak 4 dirham, dengan jaminan gajinya bulan depan supaya dipotong.

Mesjid Al Markaz Makassar, Sulawesi Selatan

Kemudian bendaharawan itu mengirim surat balasan kepada Umar, yang isinya demikian : “Wahai Umar, apakah engkau telah dapat memastikan bahwa engkau masih hidup sampai bulan depan?. Bagaimana kalau engkau mati sebelum melunasi hutangmu? Membaca surat bendaharawan itu, maka seketika itu juga Umar tersungkur menangis, lalu beliau menasehati anakanya dan berkata : “Wahai anakku, berangkatlah ke sekolah dengan baju usangmu itu sebagaimana biasanya, karna akau tidak dapat memperhatikan umurku walaupun untuk satu jam” Sungguh, batasan umur manusia tidak ada yang mengetahuinya, kecuali hanya Allah SWT semata.

Oleh karena keterbatasan tersebut, dan karena rahasia Allah SWT semata, maka marilah kita pergunakan kesempatan hidup ini dengan meningkatkan taqwa kita kepada-Nya dan menambah semangat beramal ibadah yang lebih banyak lagi.

Bulan Muharram Termasuk Bulan Haram

Bagaimanakah pandangan Islam mengenai awal tahun yang dimulai dengan bulan Muharram? Ketahuilah bulan Muharram adalah bulan yang teramat mulia, yang mungkin banyak di antara kita tidak mengetahuinya. Namun banyak di antara kaum Muslimin yang salah kaprah dalam menyambut bulan Muharram atau awal tahun. Silakan simak pembahasan berikut.

Dalam agama ini, bulan Muharram, merupakan salah satu di antara empat bulan yang dinamakan bulan haram. Lihatlah firman Allah Ta’ala berikut.

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوام

Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram (suci). Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu.” (QS. At Taubah: 36)

Allah Ta’ala menjelaskan bahwa sejak penciptaan langit dan bumi, penciptaan malam dan siang, keduanya akan berputar di orbitnya. Allah pun menciptakan matahari, bulan dan bintang lalu menjadikan matahari dan bulan berputar pada orbitnya. Dari situ muncullah cahaya matahari dan juga rembulan. Sejak itu, Allah menjadikan satu tahun menjadi dua belas bulan sesuai dengan munculnya hilal. Satu tahun dalam syariat Islam dihitung berdasarkan perputaran dan munculnya bulan, bukan dihitung berdasarkan perputaran matahari seba

Mengapa Disebut Bulan Haram

Lalu kenapa bulan-bulan tersebut disebut bulan haram? Al Qodhi Abu Ya’la rahimahullah mengatakan, “Dinamakan bulan haram karena dua makna.

Pertama, pada bulan tersebut diharamkan berbagai pembunuhan. Orang-orang Jahiliyyah pun meyakini demikian.

Kedua, pada bulan tersebut larangan untuk melakukan perbuatan haram lebih ditekankan daripada bulan yang lainnya karena mulianya bulan tersebut. Demikian pula pada saat itu sangatlah baik untuk melakukan amalan ketaatan

Karena pada saat itu adalah waktu sangat baik untuk melakukan amalan ketaatan, sampai-sampai para salaf sangat suka untuk melakukan puasa pada bulan haram. Sufyan Ats Tsauri mengatakan, “Pada bulan-bulan haram, aku sangat senang berpuasa di dalamnya.”

Ibnu ‘Abbas mengatakan, “Allah mengkhususkan empat bulan tersebut sebagai bulan haram, dianggap sebagai bulan suci, melakukan maksiat pada bulan tersebut dosanya akan lebih besar, dan amalan sholeh yang dilakukan akan menuai pahala yang lebih banyak.

Bulan Muharram adalah Syahrullah (Bulan Allah)

Suri tauladan dan panutan kita, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلاَةُ اللَّيْلِ

Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadhan adalah puasa pada syahrullah (bulan Allah) yaitu Muharram. Sementara shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam.

Bulan Muharram betul-betul istimewa karena disebut syahrullah yaitu bulan Allah, dengan disandarkan pada lafazh jalalah Allah. Karena disandarkannya bulan ini pada lafazh jalalah Allah, inilah yang menunjukkan keagungan dan keistimewaannya.

Perkataan yang sangat bagus dari As Zamakhsyari, kami nukil dari Faidhul Qodir (2/53), beliau rahimahullah mengatakan, “Bulan Muharram ini disebut syahrullah (bulan Allah), disandarkan pada lafazh jalalah ‘Allah’ untuk menunjukkan mulia dan agungnya bulan tersebut, sebagaimana pula kita menyebut ‘Baitullah’ (rumah Allah) atau ‘Alullah’ (keluarga Allah) ketika menyebut Quraisy. Penyandaran yang khusus di sini dan tidak kita temui pada bulan-bulan lainnya, ini menunjukkan adanya keutamaan pada bulan tersebut.

Bulan Muharram inilah yang menggunakan nama Islami. Nama bulan ini sebelumnya adalah Shofar Al Awwal. Bulan lainnya masih menggunakan nama Jahiliyah.. Bulan ini adalah seutama-utamanya bulan untuk berpuasa penuh setelah bulan Ramadhan. Adapun melakukan puasa tathowwu’ (puasa sunnah) pada sebagian bulan, maka itu masih lebih utama daripada melakukan puasa sunnah pada sebagian hari seperti pada hari Arofah dan 10 Dzulhijah. Inilah yang disebutkan oleh Ibnu Rojab. Bulan Muharram memiliki keistimewaan demikian karena bulan ini adalah bulan pertama dalam setahun dan pembuka tahun.”

Selamat Tahun Baru Hijriah
Semoga hari ini lebih baik dari hari kemarin dan hari esok lebih baik dari hari ini
Amin
(Sumber : Kompasiana)

Senin, 22 November 2010

Kegiatan Santri : Berkebun

Berdasarkan informasi prediksi cuaca yang diterima Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) disebutkan bahwa fenomena la nina yang ditandai dengan anomali suhu muka laut negatif (lebih dingin dari rata-ratanya) di Ekuator Pasifik Tengah menyebabkan curah hujan di Indonesia meningkat akibat menghangatnya suhu muka laut di perairan Indonesia. Sehingga diperkirakan musim hujan mulai September 2010 terus meningkat intensitasnya sampai dengan Februari 2011. Sebagian daerah di Indonesia mendapat curah hujan yang tinggi.

Memanfaatkan waktu yang baik dan bersamaan dengan Pelaksanaan Ujian CPNS Kemenag Kab. Enrekang yang meminjam ruang kelas di Pondok Pesantren Modern Darul Falah Enrekang sehingga santri diistirahatkan KBM pagi, para santri terjun ke lokasi sekitar bangunan pondok yang kosong untuk digemburkan.


Tempat parkir pondok penuh kendaraan para peserta dan panitia Ujian CPNS Kemenag 2010

Petugas, panitia dan peserta selesai Ujian berlangsung

Santri memanfaatkan waktu dengan menggarap kebun di lokasi depan Rumah Pengasuh

Santri menggapar lahan di belakang Rumah Guru

Mudah-mudahan hasil kerja santri berkebun membawa manfaat. Amin