"Tidak ada kata terlambat untuk Kamis, 19 Juli 2012
ENGLISH CAMP 2012 "Bring London To Darul Falah"
"Tidak ada kata terlambat untuk Minggu, 08 Juli 2012
Tes Pemetaan Potensi Calon Santri Baru 2012/2013
Pada hari Kamis, 05 Juli 2012 jam 09.00 Wita, di Pesantren Modern darul Falah Enrekang dilaksanakan Tes Pemetaan Potensi yang diikuti 169 calon santri baru tp. 2012/2013. Tes tahap I adalah tes kemampuan akademik, meliputi materi pelajaran umum dan agama dan tes tahap II adalah tes baca tulis Al Qur'an.
Kapasitas pondokan/asrama santri sudah penuh dimana daya tampung 326 terdiri atas 170 santri putra dan 156 santri putri dengan 79 santri baru putra dan 89 santri baru putri.Minggu, 10 Juni 2012
Penamatan Santri TK Islam Darul Falah Tahun 2012
TK Islam Darul Falah pada hari rabu, 6 Juni 2012 mengadakan kegiatan penamatan santriwan & santriwati kelompok B yang dilaksanakan di halaman TK. Acara berlangsung meriah dan penuh kegembiraan baik dari santri, para orang tua maupun semua yang hadir. Dalam acara tersebut sempat dalam sambutan saya sampaikan beberapa pokok pemikiran untuk perenungan kaitannya dengan tema penamatan. Berangkat dari kondisi yang belum sesuai harapan di lingkungan dan negara kita serta harapan yang tinggi terhadap generasi muda yang menempuh pendidikan pra sekolah di TK.Kenapa dinamakan TK (Taman Kanak-kanak) ? Taman merupakan tempat yang indah, dan Taman Kanak-kanak adalah tempat yang indah bagi anak-anak. Secara harfiah taman pada taman kanak-kanak adalah arti tempat yang nyaman untuk bermain, dalam pengertian perilaku guru, penataan sarana dan prasarana, dan program kegiatan belajar harus menciptakan suasana yang nyaman bagi pertumbuhan dan perkembangan anak.
Terkait dengan Tema Penamatan “ Menyelamatkan Moral & Akhlak Anak Indonesia Menuju Generasi Islami Menyongsong Masa Depan Yang Gemilang” ada 2 istilah yang oleh para ahli psikologi disebut ‘Golden Age’ dan ‘Golden Rule’ yang patut menjadi renungan.
Para ahli psikologi berpendapat bahwa pendidikan di TK merupakan masa usia emas (Golden Age) yang datang hanya sekali dan tidak dapat terulang kembali pada fase berikutnya. Pada usia emas anak mengalami perkembangan yang sangat pesat, baik menyangkut pertumbuhan fisik-motorik, pengembangan watak-moral dan emosional-intelektual serta sosial-bahasanya ! Sehingga pendidikan dengan beragam input yang merangsang pengembangan kepribadian/karakter dan potensi diri baik psikis dan fisik yang meliputi moral dan nilai-nilai agama, sosial emosial, kognitif, fisik-motorik, kemandirian dan seni yang sesuai dengan tahap perkembangan anak perlu diberikan !
Sedangkan ‘Golden Rule’, yaitu nilai moral universal dimana karakter dasar manusia berpijak yang bersumber dari nilai-nilai agama antara lain cinta kepada Allah dan ciptaanNya, tanggung jawab, jujur, tulus, berani, tekun, disiplin, adil, hormat dan santun, kasih sayang, peduli, kerjasama, percaya diri, kreatif, kerja keras, pantang menyerah, keadilan kepemimpinan, baik, rendah hati, cinta damai dan cinta persatuan.
Jadi sangatlah penting menanamkan nilai moral universal pada masa usia emas dengan harapan ke depan bangsa dan negara tercinta ini semakin baik, sejahtera dan bermartabat.
Minggu, 27 Mei 2012
Pendidikan Karakter Dan Kelulusan Ujian Nasional
Rabu, 23 Mei 2012
Pentingnya Memiliki Niat Untuk berbuat Baik Setiap Hari
Seorang yang beriman menjalani seluruh hidupnya berdasarkan Al Qur'an, dan berusaha menerapkan secara hati-hati dari hari ke hari apa yang telah ia baca dan pelajari dalam ayat-ayatnya. Dalam segala perbuatannya, sejak saat dia bangun di pagi hari sampai waktu dia tertidur di malam hari, dia memiliki niat bahwa dalam berpikir, berbicara dan bertindak itu harus sesuai dengan apa yang diajarkan dalam Al-Qur'anSabtu, 12 Mei 2012
TK Islam Darul Falah Enrekang
Hal ini dilaksanakan agar prestasi yang terdapat pada anak didik dapat terpantau. Kegiatan ini juga agar anak terampil bersosialisasi dalam masyarakat, juga untuk menumbuhkan rasa percaya diri anak, serta menyalurkan dan mengembangkan bakat, minat dan kemampuan yang ada pada diri anak.
Jumat, 11 Mei 2012
Rehab Auditorium
Auditorium (Aula) Pesantren Modern Darul Falah Enrekang yang berada di tengah lokasi Pondok memiliki fungsi yang sangat penting dalam proses pembinaan santri. Saat ini sedang dilaksanakan rehab menyeluruh di Kampus dan aula merupakan salah bangunan yang direhab. Berada di dalam ruang Aula terdapat 2 (dua) lapangan bulutangkis yang dapat dipergunakan siang atau malam hari.
Tempatnya sangat strategis dan memilihi lahan parkir yang luas sehingga menjadi alternatif tempat kegiatan-kegiatan pembinaan/pelatihan.
Jumat, 04 Mei 2012
Penerimaan Santri Baru TP. 2012/2013
WAKTU PENDAFTRAN
Pada Tanggal 10 Mei s/d 04 Juli 2012 M
PERSYARATAN
Tingkat SMP/MTs Berijazah SD/MI atau Sederajat Tingkat SMA Berijazah SMP/MTs atau Sederajat Menyertakan :
- 1 Lembar Keterangan Lulus
- 1 Lembar Photo Copy Akte Kelahiran
- 5 Lembar Photocopy Kartu Keluarga
- 5 Lembar Photo Copy Ijazah dilegalisir
- 5 Lembar Photo Copy SKHU dilegalisir
- Pasphoto (3x4 sebanyak 3 lembar, 2x3 sebanyak 2 lembar)
Materi Ujian Seleksi Meliputi :
- Ilmu Pengetahuan Umum dan Agama
- Membaca Al Qur’an ( Pemetaan Potensi Untuk Pembinaan)
Tes dilaksanakan pada tanggal 05 Juli 2012
TEMPAT PENDAFTARAN
Sekertariat Panitia Penerimaan Santri Baru
Kampus Pesantren Modern Darul Falah Enrekang
Jalan Jenderal Sudirman No.2 Enrekang Tlp. (0420) 21282
Untuk Informasi Lebih Lanjut silahkan hubungi melalui Hp/SMS :
Amran Martin (0811422006)
Bahrum Sindang, M.Ag (081343688087)
Endang Palondongan, SE (085299140476)
Andi Hamsina, S.Pd.I (081241554026)
Sabtu, 31 Desember 2011
Akhir Tahun 2011 : Muhasabah (Evaluasi Diri)
Dari Syadad bin Aus r.a., dari Rasulullah saw., bahwa beliau berkata, ‘Orang yang pandai adalah yang menghisab (mengevaluasi) dirinya sendiri serta beramal untuk kehidupan sesudah kematian. Sedangkan orang yang lemah adalah yang dirinya mengikuti hawa nafsunya serta berangan-angan terhadap Allah swt. (HR. Imam Turmudzi, ia berkata, ‘Hadits ini adalah hadits hasan’)
Gambaran Umum HaditsHadits di atas menggambarkan urgensi muhasabah (evaluasi diri) dalam menjalani kehidupan di dunia ini. Karena hidup di dunia merupakan rangkaian dari sebuah planing dan misi besar seorang hamba, yaitu menggapai keridhaan Rab-nya. Dan dalam menjalankan misi tersebut, seseorang tentunya harus memiliki visi (ghayah), perencanaan (ahdaf), strategi (takhtith), pelaksanaan (tatbiq) dan evaluasi (muhasabah). Hal terakhir merupakan pembahasan utama yang dijelaskan oleh Rasulullah saw. dalam hadits ini. Bahkan dengan jelas, Rasulullah mengaitkan evaluasi dengan kesuksesan, sedangkan kegagalan dengan mengikuti hawa nafsu dan banyak angan.
Indikasi Kesuksesan dan Kegagalan
Hadits di atas dibuka Rasulullah dengan sabdanya, ‘Orang yang pandai (sukses) adalah yang mengevaluasi dirinya serta beramal untuk kehidupan setelah kematiannya.’ Ungkapan sederhana ini sungguh menggambarkan sebuah visi yang harus dimiliki seorang muslim. Sebuah visi yang membentang bahkan menembus dimensi kehidupan dunia, yaitu visi hingga kehidupan setelah kematian.
Seorang muslim tidak seharusnya hanya berwawasan sempit dan terbatas, sekedar pemenuhan keinginan untuk jangka waktu sesaat. Namun lebih dari itu, seorang muslim harus memiliki visi dan planing untuk kehidupannya yang lebih kekal abadi. Karena orang sukses adalah yang mampu mengatur keinginan singkatnya demi keinginan jangka panjangnya. Orang bertakwa adalah yang ‘rela’ mengorbankan keinginan duniawinya, demi tujuan yang lebih mulia, ‘kebahagian kehidupan ukhrawi.’
Dalam Al-Qur’an, Allah swt. seringkali mengingatkan hamba-hamba-Nya mengenai visi besar ini, di antaranya adalah dalam QS. Al-Hasyr (59): 18–19.
Muhasabah atau evaluasi atas visi inilah yang digambarkan oleh Rasulullah saw. sebagai kunci pertama dari kesuksesan. Selain itu, Rasulullah saw. juga menjelaskan kunci kesuksesan yang kedua, yaitu action after evaluation. Artinya setelah evaluasi harus ada aksi perbaikan. Dan hal ini diisyaratkan oleh Rasulullah saw. dengan sabdanya dalam hadits di atas dengan ’dan beramal untuk kehidupan sesudah kematian.’ Potongan hadits yang terakhir ini diungkapkan Rasulullah saw. langsung setelah penjelasan tentang muhasabah. Karena muhasabah juga tidak akan berarti apa-apa tanpa adanya tindak lanjut atau perbaikan.
Terdapat hal menarik yang tersirat dari hadits di atas, khususnya dalam penjelasan Rasulullah saw. mengenai kesuksesan. Orang yang pandai senantiasa evaluasi terhadap amalnya, serta beramal untuk kehidupan jangka panjangnya yaitu kehidupan akhirat. Dan evaluasi tersebut dilakukan untuk kepentingan dirinya, dalam rangka peningkatan kepribadiannya sendiri.
Sementara kebalikannya, yaitu kegagalan. Disebut oleh Rasulullah saw, dengan ‘orang yang lemah’, memiliki dua ciri mendasar yaitu orang yang mengikuti hawa nafsunya, membiarkan hidupnya tidak memiliki visi, tidak memiliki planing, tidak ada action dari planingnya, terlebih-lebih memuhasabahi perjalanan hidupnya. Sedangkan yang kedua adalah memiliki banyak angan-angan dan khayalan, ’berangan-angan terhadap Allah.’ Maksudnya, adalah sebagaimana dikemukakan oleh Imam Al-Mubarakfuri dalam Tuhfatul Ahwadzi, sebagai berikut: Dia (orang yang lemah), bersamaan dengan lemahnya ketaatannya kepada Allah dan selalu mengikuti hawa nafsunya, tidak pernah meminta ampunan kepada Allah, bahkan selalu berangan-angan bahwa Allah akan mengampuni dosa-dosanya.
Urgensi MuhasabahImam Turmudzi setelah meriwayatkan hadits di atas, juga meriwayatkan ungkapan Umar bin Khattab dan juga ungkapan Maimun bin Mihran mengenai urgensi dari muhasabah.
1. Mengenai muhasabah, Umar r.a. mengemukakan:
‘Hisablah (evaluasilah) diri kalian sebelum kalian dihisab, dan berhiaslah (bersiaplah) kalian untuk hari aradh akbar (yaumul hisab). Dan bahwasanya hisab itu akan menjadi ringan pada hari kiamat bagi orang yang menghisab (evaluasi) dirinya di dunia.
Sebagai sahabat yang dikenal ‘kritis’ dan visioner, Umar memahami benar urgensi dari evaluasi ini. Pada kalimat terakhir pada ungkapan di atas, Umar mengatakan bahwa orang yang biasa mengevaluasi dirinya akan meringankan hisabnya di yaumul akhir kelak. Umar paham bahwa setiap insan akan dihisab, maka iapun memerintahkan agar kita menghisab diri kita sebelum mendapatkan hisab dari Allah swt.
2. Sementara Maimun bin Mihran r.a. mengatakan:
‘Seorang hamba tidak dikatakan bertakwa hingga ia menghisab dirinya sebagaimana dihisab pengikutnya dari mana makanan dan pakaiannya’.
Maimun bin Mihran merupakan seorang tabiin yang cukup masyhur. Beliau wafat pada tahun 117 H. Beliaupun sangat memahami urgensi muhasabah, sehingga beliau mengaitkan muhasabah dengan ketakwaan. Seseorang tidak dikatakan bertakwa, hingga menghisab (mengevaluasi) dirinya sendiri. Karena beliau melihat salah satu ciri orang yang bertakwa adalah orang yang senantiasa mengevaluasi amal-amalnya. Dan orang yang bertakwa, pastilah memiliki visi, yaitu untuk mendapatkan ridha Ilahi.
3. Urgensi lain dari muhasabah adalah karena setiap orang kelak pada hari akhir akan datang menghadap Allah swt. dengan kondisi sendiri-sendiri untuk mempertanggung jawabkan segala amal perbuatannya. Allah swt. menjelaskan dalam Al-Qur’an: “Dan tiap-tiap mereka akan datang kepada Allah pada hari kiamat dengan sendiri-sendiri.” [QS. Maryam (19): 95, Al-Anbiya’ (21): 1].
Aspek-Aspek Yang Perlu Dimuhasabahi
Terdapat beberapa aspek yang perlu dimuhasabahi oleh setiap muslim, agar ia menjadi orang yang pandai dan sukses.
1.Aspek Ibadah
Pertama kali yang harus dievaluasi setiap muslim adalah aspek ibadah. Karena ibadah merupakan tujuan utama diciptakannya manusia di muka bumi ini. [QS. Adz-Dzaariyaat (51): 56]
2. Aspek Pekerjaan & Perolehan Rizki
Aspek kedua ini sering kali dianggap remeh, atau bahkan ditinggalkan dan ditakpedulikan oleh kebanyakan kaum muslimin. Karena sebagian menganggap bahwa aspek ini adalah urusan duniawi yang tidak memberikan pengaruh pada aspek ukhrawinya. Sementara dalam sebuah hadits, Rasulullah saw. bersabda:
Dari Ibnu Mas’ud ra dari Nabi Muhammad saw. bahwa beliau bersabda, ‘Tidak akan bergerak tapak kaki ibnu Adam pada hari kiamat, hingga ia ditanya tentang 5 perkara; umurnya untuk apa dihabiskannya, masa mudanya, kemana dipergunakannya, hartanya darimana ia memperolehnya dan ke mana dibelanjakannya, dan ilmunya sejauh mana pengamalannya.’ (HR. Turmudzi)
3.Aspek Kehidupan Sosial Keislaman
Aspek yang tidak kalah penting untuk dievaluasi adalah aspek kehidupan sosial, dalam artian hubungan muamalah, akhlak dan adab dengan sesama manusia. Karena kenyataannya aspek ini juga sangat penting, sebagaimana yang digambarkan Rasulullah saw. dalam sebuah hadits:
Dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah saw. bersabda, ‘Tahukah kalian siapakah orang yang bangkrut itu?’ Sahabat menjawab, ‘Orang yang bangkrut diantara kami adalah orang yang tidak memiliki dirham dan tidak memiliki perhiasan.’ Rasulullah saw. bersabda, ‘Orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan (pahala) shalat, puasa dan zakat, namun ia juga datang dengan membawa (dosa) menuduh, mencela, memakan harta orang lain, memukul (mengintimidasi) orang lain. Maka orang-orang tersebut diberikan pahala kebaikan-kebaikan dirinya. Hingga manakala pahala kebaikannya telah habis, sebelum tertunaikan kewajibannya, diambillah dosa-dosa mereka dan dicampakkan pada dirinya, lalu dia pun dicampakkan ke dalam api neraka. (HR. Muslim)
Melalaikan aspek ini, dapat menjadi orang yang muflis sebagaimana digambarkan Rasulullah saw. dalam hadits di atas. Datang ke akhirat dengan membawa pahala amal ibadah yang begitu banyak, namun bersamaan dengan itu, ia juga datang ke akhirat dengan membawa dosa yang terkait dengan interaksinya yang negatif terhadap orang lain; mencaci, mencela, menuduh, memfitnah, memakan harta tetangganya, mengintimidasi dsb. Sehingga pahala kebaikannya habis untuk menutupi keburukannya. Bahkan karena kebaikannya tidak cukup untuk menutupi keburukannya tersebut, maka dosa-dosa orang-orang yang dizaliminya tersebut dicampakkan pada dirinya. Hingga jadilah ia tidak memiliki apa-apa, selain hanya dosa dan dosa, akibat tidak memperhatikan aspek ini. Na’udzubillah min dzalik.
4. Aspek Dakwah
Aspek ini sesungguhnya sangat luas untuk dibicarakan. Karena menyangkut dakwah dalam segala aspek; sosial, politik, ekonomi, dan juga substansi dari da’wah itu sendiri mengajak orang pada kebersihan jiwa, akhlaqul karimah, memakmurkan masjid, menyempurnakan ibadah, mengklimakskan kepasrahan abadi pada ilahi, banyak istighfar dan taubat dsb.
Tetapi yang cukup urgens dan sangat substansial pada evaluasi aspek dakwah ini yang perlu dievaluasi adalah, sudah sejauh mana pihak lain baik dalam skala fardi maupun jama’i, merasakan manisnya dan manfaat dari dakwah yang telah sekian lama dilakukan? Jangan sampai sebuah ‘jamaah’ dakwah kehilangan pekerjaannya yang sangat substansial, yaitu dakwah itu sendiri.
Evaluasi pada bidang dakwah ini jika dijabarkan, juga akan menjadi lebih luas. Seperti evaluasi dakwah dalam bidang tarbiyah dan kaderisasi, evaluasi dakwah dalam bidang dakwah ‘ammah, evaluasi dakwah dalam bidang siyasi, evaluasi dakwah dalam bidang iqtishadi, dsb?
Pada intinya, dakwah harus dievaluasi, agar harakah dakwah tidak hanya menjadi simbol yang substansinya telah beralih pada sektor lain yang jauh dari nilai-nilai dakwah itu sendiri. Mudah – mudahan ayat ini menjadi bahan evaluasi bagi dakwah yang sama-sama kita lakukan: Katakanlah: “Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik”. [QS. Yusuf (12): 108]
Sumber: http://www.dakwatuna.com/2007/09/258/makna-muhasabah/#ixzz1iAqz7UGi











